Ada Missmatch di Pasar Banten

Indonesia Property Watch mencatat nilai penjualan pasar perumahan di wilayah Banten mengalami penurunan sebesar 21,5% secara kuartalan pada triwulan kedua 2018, setelah pada triwulan sebelumnya mengalami pertumbuhan 31,1% (q-o-q).
Anitana Widya Puspa | 17 Juli 2018 21:02 WIB
Ilustrasi - Bisnis

Bisnis.com, JAKARTA-- Indonesia Property Watch mencatat nilai penjualan pasar perumahan di wilayah Banten mengalami penurunan sebesar 21,5% secara kuartalan pada triwulan kedua 2018, setelah pada triwulan sebelumnya mengalami pertumbuhan 31,1% (q-o-q).

Sebagian besar nilai penjualan masih didominasi penjualan rumah di wilayah Tangerang dan sekitarnya sebesar 83,5%, diikuti Cilegon sebesar 13,5%, dan Serang 3,0%.

CEO IPW Ali Tranghanda menilai kondisi pasar yang ada saat ini tidak serta merta menggambarkan jatuhnya pasar perumahan di wilayah Banten, melainkan terjadi mismatch pasar dikarenakan pasokan rumah seharga di bawah Rp300 jutaan yang semakin terbatas, sementara pasar terus mengarah ke segmen ini.

“Beberapa proyek yang berhasil membaca pasar dengan memasok harga rumah di segmen ini memerlihatkan tingkat penjualan di atas rata-rata yang terjadi di wilayah Banten secara umum. Para pengembang diharapkan bisa lebih melakukan pendekatan pasar yang benar sehingga perlambatan ini tidak akan menerus sampai akhir tahun,” katanya dalam rilisnya, Selasa (17/7/2018).

Ali menjabarkan sebagian besar proyek mengalami penurunan nilai penjualan, termasuk proyek-proyek di wilayah Cilegon yang mengalami penurunan paling tinggi sebesar 50%, diikuti Tangerang yang turun 22,5%.

Bergeraknya nilai penjualan yang terjadi ini diperkirakan karena naiknya penjualan unit tipe kecil di kisaran harga Rp150 juta– 300 jutaan dengan komposisi penjualan mencapai 54,3%, diikuti segmen harga di bawah Rp 150 juta sebesar 22,8%.

Adapun, segmen harga yang sempat menjadi primadona pada triwulan sebelumnya di kisaran Rp300 – 500 juta relatif mengalami penurunan pada triwulan ini, termasuk unit dengan segmen di atas Rp 500 jutaan. Pergeseran pasar terus mengarah ke segmen harga lebih rendah dengan harga transaksi rata-rata sebesar Rp297 juta per unit.

Siklus musiman pada triwulan kedua 2018 yang bertepatan dengan Ramadan dan liburan hari raya Idul Fitri sementara juga diperkirakan berdampak pada penurunan penjualan.

Namun, IPW tetap mengkhawatirkan tren ini akan berlanjut pada triwulan selanjutnya sampai akhir tahun, mengingat adanya kenaikan suku bunga Bank Indonesia menjadi sebesar 5,25% yang dipastikan akan mengerek suku bunga perbankan lebih tinggi lagi, yang akhirnya memengaruhi suku bunga KPR saat ini.

Tag : pasar properti
Editor : M. Rochmad Purboyo

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top