Gapura Angkasa Klaim Hanya Naikkan Tarif 4%

PT Gapura Angkasa mengklaim masih mampu mengendalikan biaya operasional dengan hanya menaikkan rata-rata tarif layanan hingga 4% pada awal tahun kendati mengalami tekanan dari pengetatan belanja maskapai.
Rio Sandy Pradana | 16 Juli 2018 20:12 WIB
Aktivitas ground handling pesawat di Bandara Soekarno-Hatta - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA – PT Gapura Angkasa mengklaim masih mampu mengendalikan biaya operasional dengan hanya menaikkan rata-rata tarif layanan hingga 4% pada awal tahun kendati mengalami tekanan dari pengetatan belanja maskapai.

CEO dan Presiden Direktur Gapura Angkasa Sucipto mengaku mendapatkan tekanan dari internal dan eksternal. Internal yakni berupa upah minimum karyawan yang terus naik setiap tahun, sedangkan eksternal dari fluktuasi nilai tukar rupiah, harga solar industri, dan pengetatan belanja yang dilakukan maskapai.

"Semester ini kami masih bisa mengendalikan biaya operasional. Kenaikan tarif layanan pada awal tahun lalu rata-rata hanya 3%," kata Sucipto pada Senin (16/7/2018).

Dia menambahkan semua maskapai baik lokal maupun asing mengaku biaya operasionalnya semakin tinggi, sehingga berharap agar tarif jasa layanan darat (ground handling) tidak dinaikkan. Namun, pada awal tahun tarif ground handling sejumlah maskapai berhasil dinaikkan.

Sucipto menuturkan porsi pendapatan mayoritas atau sekitar 70% perusahaan masih berasal dari bisnis ground handling. Sisanya, terbagi dalam usaha logistik yang meliputi kargo dan pergudangan (warehousing), serta layanan bagi penumpang (hospitality).

Pendapatan dari ground handling, lanjutnya, sebanyak 60% masih berasal dari Garuda Indonesia kendati juga melayani maskapai asing dan domestik.

Maskapai domestik lain adalah Citilink Indonesia, Batik Air, dan Lion Air, sedangkan maskapai asing terdiri atas Korean Air, Japan Airline, Air China, China Southern, Hong Kong Airlines, KLM Royal Dutch Airlines, Qatar Airways, Thai Airways, dan Royal Brunei Airlines.

Menurutnya, secara volume pendapatan yang dihasilkan oleh maskapai lokal lebih banyak dibandingkan dengan maskapai asing. Alasannya, maskapai lokal dalam sehari bisa terbang hingga 100 kali, sedangkan asing hanya dua hingga tiga kali per hari.

Sucipto menyebutkan tahun ini terdapat permintaan penambahan layanan dari KLM yang semula hanya memilih ground handling di Bandara I Gusti Ngurah Rai Denpasar, ditambah di Bandara Soekarno-Hatta Cengkareng.

Bahkan, KLM juga meminta Gapura, yang sudah mendapat sertifikasi dari Uni Eropa, untuk melayani kargo terbang langsung ke Benua Biru.

Tag : penerbangan
Editor : M. Syahran W. Lubis

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top