Dunia yang Semakin Ketagihan dan Detoks Digital

Digital Detox mencatat, 67% pemilik ponsel memeriksa perangkat mereka meskipun tidak berdering atau bergetar. Data lain menyebut bahwa 50% orang lebih suka berkomunikasi secara digital daripada secara tatap-muka.
M. Taufikul Basari | 16 Juli 2018 19:50 WIB
Ilustrasi adiksi smartphone - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA --  Istilah detoks digital merujuk pada periode ketika seseorang menahan diri dari menggunakan perangkat elektronik seperti smartphone atau komputer, yang dianggap sebagai kesempatan untuk mengurangi stres atau fokus pada interaksi sosial di dunia fisik.

Istilah ini mulai populer beberapa tahun terakhir, seiring dengan semakin tingginya intensitas orang menatap layar gawai dan kekhawatiran akan dampak buruknya. Menurut portal penyedia data www.statista.com, rata-rata waktu yang dihabiskan orang untuk berinteraksi di media sosial mencapai 135 menit atau 2,25 jam sehari pada 2017. Artinya, ada 821 jam atau lebih dari 34 hari dalam setahun habis untuk bermedia sosial.

Digital Detox mencatat, 67% pemilik ponsel memeriksa perangkat mereka meskipun tidak berdering atau bergetar. Data lain menyebut bahwa 50% orang lebih suka berkomunikasi secara digital daripada secara tatap-muka.

Data-data di atas seolah menunjukan bahwa gawai yang semula tampak sebagai manifestasi revolusi digital telah menjadi sumber kesepian manusia sosial. Di satu sisi gadget adalah perangkat yang menunjang produktivitas dan kualitas komunikasi kita, tetapi di sisi lain bisa juga menggerus waktu dan energi secara sia-sia.

Riset pertama soal pengaruh negatif media sosial keluar pada 2011 yang dilakukan Mark Griffiths dan Daria Kuss. Mereka mulai membuat studi yang menunjukkan bahwa penggunaan media sosial yang berlebihan telah merusak banyak aspek kehidupan, termasuk hubungan sosial, kerja, dan prestasi akademik. Keduanya menyebut bahwa tanda-tanda yang ditemukan itu mirip dengan kecanduan alkohol atau obat-obatan.

Penelitian yang lebih baru menyebut bahwa kecanduan media sosial dikaitkan dengan masalah psikologis seperti kecemasan, depresi, dan kesepian. Dampak perilaku lain yang cukup berbahaya adalah memeriksa ponsel saat mengemudi, atau mengambil swafoto di lokasi ekstrem dan menyebabkan kecelakaan hingga kematian.

Namun, dampak buruk gawai tidak perlu membawa kita pada keputusan ekstrem untuk benar-benar menghindarinya. Kita tidak bisa juga menyamakan smartphone dengan ganja atau obat-obatan terlarang, lantas membuat pembatasan yang terlalu mengekang.

Detoks digital sendiri lebih berorientasi pada upaya untuk menyeimbangkan kehidupan yang saat ini terlalu didominasi dengan aktivitas bersama perangkat elektronik.

Detoksifikasi bisa dimulai dengan mematikan fungsi suara di telepon Anda, sesekali memeriksa HP dalam sejam atau lebih, dan dedikasikan hari tertentu tidak terpapar layar gadget.

Upaya untuk memperbaiki hubungan sosial manusia ini tak bisa dilakukan sendiri. Seruan dan larangan menggunakan ponsel di area-area tertentu sudah seharusnya didukung, khususnya di sekolah.

Levi Felix mungkin bisa menjadi inspirasi Anda untuk mulai melakukan detoks. Sebelum mendirikan Digital Detox, pengusaha ini sempat bekerja untuk startup dengan jam kerja hingga 70 jam seminggu dan tidur dengan laptop di bawah bantal.

Ia kemudian mengubah arah hidupnya dengan membantu orang-orang menyeimbangkan kehidupan lewat retret dengan yoga, meditasi, diet sehat, dan interaksi langsung. “Aku ingin melihat lebih banyak orang melihat wajah yang lain, daripada menatap layar [gawainya].”

Sayangnya, Levi Felix telah meninggal karena kanker otak. Apakah karena kebiasaanya dahulu bekerja dengan perangkat elektronik? Wallahualam bissawab.

Tag : digital
Editor : M. Taufikul Basari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top