Teknologi Smart Grid Huawei Berpotensi Pangkas Opex PLN 30%

Solusi smart grid belum sampai ke tahap penerapan secara komersial meskipun telah dilakukan uji coba.
Duwi Setiya Ariyanti | 13 Juli 2018 12:58 WIB
Karyawan memeriksa kesiapan alat untuk pasokan listrik pergelaran Asian Games 2018 di gardu induk Area Pelaksana Pemeliharaan (APP) Cawang, Jakarta, Selasa (10/7/2018). - JIBI/Nurul Hidayat

Bisnis.com, JAKARTA — Solusi smart grid dari Huawei berpotensi memangkas biaya operasional PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) hingga 30%.

Executive Product Manager Huawei Indonesia Arri Marsenaldi mengatakan untuk unit bisnis korporat atau enterprise business, pihaknya tahun ini berfokus pada pengembangan pasar korporat sektor bank, kelistrikan, dan pengelolaan bandara. 

Dengan terus naiknya tren transformasi digital di sektor perbankan, tengah berjalannya proyek ketenagalistrikan 35.000 MW dan revitalisasi juga penambahan bandara, pihaknya ingin mendalami peluang yang belum tersentuh.

Adapun, untuk solusi bank digital, telah diterapkan oleh empat bank di Indonesia. Sementara itu, untuk manajemen digital untuk bandara, pihaknya masih melakukan penjajakan. Lalu, untuk solusi smart grid pun belum sampai ke tahap penerapan secara komersial meskipun telah dilakukan uji coba.

“Dua solusi itu (smart grid dan digital aviation) masih edukasi, penjajakan, membangun pentingnya transformasi di energi dan bandara,” ujarnya saat jumpa pers di Kantor Huawei, Kamis (12/7/2018).

Menurutnya, solusi kelistrikan melalui penerapan smart grid bisa memberikan penghematan biaya operasional (operational expenditure/opex) hingga 30%. Penghematan ini berasal dari digitalisasi pelayanan yakni meteran yang bisa menjawab keinginan konsumen sehingga tenaga manusia untuk melakukan pengecekan tak diperlukan lagi. 

Penghematan juga berasal dari penyaluran pasokan listrik yang lebih merata. Sebagai contoh, dia menyebut jaringan distribusi yang ada belum bisa menyalurkan pasokan dari sumber pasokan berbeda. Oleh karena itu, kerap kali terdapat wilayah yang kekurangan pasokan saat pasokan di wilayah lain justru berlimpah. 

Selain itu, dengan meteran digital, konsumen bisa melakukan isi ulang pulsa token, penambahan daya hingga melakukan pengaduan bila terdapat gangguan. Pengukuran konsumsi listrik, katanya, lebih akurat karena terekam secara digital. Hal ini, katanya, akan membantu pemerintah untuk mendapatkan perkiraan kebutuhan subsidi listrik. 

“Sekarang grid itu scattered di satu daerah. Kalau pakai smart grid ini energi di satu daerah bisa dialirkan ke daerah yang lain,” katanya. 

Tag : transformasi digital
Editor : Demis Rizky Gosta

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top