Jumlah Follower Twitter Berkurang? Bisa Jadi Banyak Follower Anda Senang Menyebar Hoaks

Apakah Anda pengguna setia Twitter dan kaget karena jumlah follower berkurang drastis? Bisa jadi sebagian follower Anda adalah orang-orang yang senang menyebarkan hoaks.
Annisa Margrit | 13 Juli 2018 12:56 WIB
Ilustrasi Twitter. - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA -- Apakah Anda pengguna setia Twitter dan kaget karena jumlah follower berkurang drastis? Bisa jadi sebagian follower Anda adalah orang-orang yang senang menyebarkan hoaks.

Baru-baru ini, Twitter menerapkan kebijakan baru yang disebutnya sebagai upaya meningkatkan kepercayaan dan mendorong pembicaraan yang sehat di media sosial itu.

Legal, Policy and Trust & Safety Lead Twitter Vijaya Gadde mengatakan sepanjang tahun ini pihaknya telah mengunci akun-akun yang dideteksi melakukan perubahan perilaku secara mendadak.

Perubahan mendadak ini dapat mencakup beberapa hal, seperti mencuit sejumlah besar volume balasan atau menyebut akun tertentu tanpa diminta, mencuitkan tautan yang menyesatkan, atau jika sejumlah besar akun memblokir akun tertentu setelah akun itu mention akun yang bersangkutan.

Akun juga bisa dikunci jika ada kombinasi email dan kata sandi dari layanan lain yang disebarkan secara online dan informasi tersebut diyakini dapat membahayakan keamanan akun.

Ketika dikunci, pemilik akun tidak dapat mengirim cuitan ataupun melihat iklan yang ada di Twitter.

Twitter akan tetap mengunci akun tersebut hingga pemiliknya mengonfirmasi bahwa mereka masih memiliki kontrol terhadap akun itu.

"Pekan ini, kami akan menghapus akun-akun yang terkunci tersebut dari jumlah pengikut di seluruh profil secara global. Hal ini akan mengakibatkan berkurangnya jumlah pengikut yang ditampilkan di banyak profil pengguna," papar Gadde dalam keterangan resminya seperti dikutip Bisnis, Jumat (13/7/2018).

Hal ini bakal berdampak pada menyusutnya jumlah follower, mulai dari 4% atau lebih. Otomatis, sebuah akun dengan jumlah pengikut lebih banyak akan mengalami penurunan yang lebih besar.

Dia melanjutkan akun-akun yang dikunci berbeda dengan akun spam atau bot.

"Dalam banyak kasus, akun ini dibuat oleh orang sungguhan, tetapi kami tidak dapat memastikan bahwa orang asli yang membuka akun tersebut masih memiliki kontrol dan akses ke akun terkait," terang Gadde.

Akun spam dan bot biasanya sudah menunjukkan perilaku spam sejak awal, sehingga bisa diprediksi oleh sistem. Akun-akun semacam ini juga dapat dinonaktifkan secara otomatis oleh Twitter.

Dia menuturkan pembaruan yang menyasar kepada follower didasari pertimbangan bahwa jumlah pengikut adalah fitur yang paling terlihat dan sering dikaitkan dengan kredibilitas akun.

Namun, Twitter mengklaim perubahan itu tidak akan berpengaruh terhadap jumlah pengguna aktif bulanan (Monthly Active User/MAU) ataupun Daily Active User (DAU).

Menyusul banyaknya hoaks dan ujaran kebencian di media sosial, ditambah dengan skandal kebocoran data pengguna Facebook, publik dan regulator di seluruh dunia meminta pengawasan yang lebih ketat dari media sosial.

Sebelumnya, WhatsApp telah melakukan pembaruan dengan memungkinkan penggunanya mengetahui apakah pesan yang diterimanya adalah hasil terusan (forward) dari pihak lain.

Facebook Indonesia juga sudah memberikan panduan bagi para politisi dalam berkampanye di media sosial, agar kredibilitas akun tetap terjaga dan tidak ada hoaks yang disebar. Seperti diketahui, tahun depan Indonesia akan menggelar Pilpres dan Pileg. 

Tag : twitter, media sosial
Editor : Annisa Margrit

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top