Penyerapan CPO Indonesia Tertekan Perang Dagang

Perang dagang antara dua perekonomian terbesar dunia, AS dan China, menekan penyerapan minyak kelapa sawit (CPO) Indonesia.
Pandu Gumilar | 11 Juli 2018 20:55 WIB
Petani memindahkan kelapa sawit hasil panen ke atas truk di Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, Rabu (4/4/2018). - JIBI/Rachman

Bisnis.com, JAKARTA - Perang dagang antara dua perekonomian terbesar dunia, AS dan China, menekan penyerapan minyak kelapa sawit (CPO) Indonesia.

Direktur Eksekutif Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) Mukti Sardjono mengatakan bukan hanya kelapa sawit yang terdampak akibat peperangan tersebut. Pada saat yang sama stok minyak nabati lain seperti rapeseed, bunga matahari dan minyak sawit juga cukup melimpah di negara produsen. Akibatnya harga minyak nabati menurun karena hukum ekonomi mulai berlaku, ketersediaan barang melimpah, permintaan sedikit, maka harga murah.

"Pada sisi lain, turunnya harga tidak mampu menarik pembeli dari India untuk menimbun stok minyak sawit. Sejak tarif bea masuk yang tinggi untuk minyak sawit permintaan India mengalami kelesuan dan sudah pada tahap akut," katanya dalam rilis yang diterima Bisnis, Rabu (11/7).

Mukti mengatakan pada Mei ini, India mencatatkan penurunan impor CPO dan turunannya sebesar 31% atau 346,28 ribu ton turun merosot menjadi 240,16 ribu ton. Pasar India yang sudah tergerus lebih dari 50% dari sejak awal tahun yang juga turut berkontribusi menyebabkan stock minyak sawit di Indonesia dan Malaysia menjadi tinggi karena susutnya pembelian yang sangat signifikan.

Sementara itu, dari sisi produksi pada Mei ini produksi mencapai 4,24 juta ton atau naik 14% dibandingkan pada April lalu yang hanya mampu mencapai 3,72 juta ton. Produksi bulan mei yang juga ini mengerek stok minyak sawit Indonesia meningkat menjadi 4,76 juta ton dibanding pada bulan lalu di 3,98 juta ton.

Dari sisi harga, sepanjang bulan Mei harga CPO global bergerak di kisaran US$ 650 – US$ 670 per metrik ton dengan harga rata-rata US$ 653,6 per metrik ton. Harga rata-rata Mei menurun US$8,6 dibandingkan harga rata-rata pada April lalu US$ 662,2 per metrik ton. Harga minyak sawit pada bulan mendatang diperkirakan akan cenderung menurun karena stok minyak sawit Indonesia dan Malaysia yang masih tinggi.

 

Tag : cpo
Editor : Bunga Citra Arum Nursyifani

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top