Harga TBS Sawit Anjlok Akibat Perang Dagang

Perang Dagang antara Amerika Serikat dengan China berimbas langsung pada pembelian tandan buah segar (TBS) di tingkat petani.
Pandu Gumilar | 11 Juli 2018 20:46 WIB
Petani memindahkan kelapa sawit hasil panen ke atas truk di Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, Rabu (4/4/2018). - JIBI/Rachman

Bisnis.com, JAKARTA - Perang Dagang antara Amerika Serikat dengan China berimbas langsung pada pembelian tandan buah segar (TBS) di tingkat petani.

Ketua Serikat Petani Kelapa Sawit (SPKS) Mansuetus Darto mengatakan bahwa harga TBS menurun secara drastis bahkan berada pada level meresahkan bagi para petani akibat dari perang dagang di level internasional.

"Bukan pembelian berkurang tapi harga turun. Sekarang harga sudah mencapai Rp800-Rp1000 per kg. Ini sudah meresahkan banget," katanya kepada Bisnis pada Selasa, (11/7).

Menurutnya, akibat perang dagang antara AS dengan China terdampak langsung ke petani sawit. Dampak pada permintaan barang dari indonesia khususnya CPO itu berkurang, sedangkan produksi justru meningkat.

"Kita sudah over produksi. Karena kebun luas, permintaan berkurang karena China terkena krisis akibat perang dengan US. Sehingga dampak pada permintaan barang dari indonesia khususnya CPO. Petani yang jadi kena imbasnya," katanya.

Di Kabupaten Sekadau, Kalimantan Barat, bahkan banyak TBS yang mangkrak dam tertahan hanya ditaruh diatas truk, tapi belum tahu kapan akan dikirimkan ke pabrik pengolahan. Darto mengatakan di daerah tersebut, harga turun dari 1.800/kg menjadi 1.050/kg.

Darto mengatakan petani membutuhkan solusi sekarang dari pemerintah. Dia mengatakan, mengacu pada UU perlindungan dan pemberdayaan petani no 19 tahun 2013 yaitu melindungi petani dari gejolak harga sawit dengan cara kasih petani insentif yang bersumber dari BPDP. Menurutnya hal tersebut jauh lebih adil dibandingkan dengan memberikan dana BPDP kepada industri.

Selain itu, dampak lain dari penurunan harga di tingkat petani adalah peremajaan perkebunan kelapa sawit yang dapat tersendat akibat ketiadaan modal.

"Dampak lain dari gejolak harga ini adalah, petani tidak mau replanting karena modal tidak ada. Pemerintah mau targetkan 185.000, tapi kalau harga masih seperti ini akan susah dilakukan replanting," tegasnya.

Tag : kelapa sawit
Editor : Bunga Citra Arum Nursyifani

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top