Tiap Pelemahan Rupiah Rp100 per US$, Biaya PLN Bertambah Rp1,3 Triliun

Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat berpotensi mendongkrak beban biaya operasional PT Perusahaan Listrik Negara (Persero).
Denis Riantiza Meilanova | 11 Juli 2018 20:07 WIB
Karyawan memeriksa kesiapan alat untuk pasokan listrik pergelaran Asian Games 2018 di gardu induk Area Pelaksana Pemeliharaan (APP) Cawang, Jakarta, Selasa (10/7/2018). - JIBI/Nurul Hidayat

Bisnis.com, JAKARTA - Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat berpotensi mendongkrak beban biaya operasional PT Perusahaan Listrik Negara (Persero).

Direktur Utama PLN Sofyan Basir mengatakan bahwa setiap Rp100 kenaikan kurs rupiah akan menimbulkan pertambahan biaya PLN sekitar Rp1,3 triliun.

Berdasarkan asumsi makro APBN 2018, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat diperkirakan senilai Rp13.400. Sedangkan rupiah tercatat terus menunjukkan tren pelemahan dalam beberapa bulan terakhir. Saat ini, nilai tukar rupiah menembus ke level Rp14.385.

"Hari ini sudah Rp10 triliun lebih (pertambahan biaya). Belum dari batu bara, BBM, selisih inflasi. Empat komponen ini yang masih kami tahan," ujar Sofyan di Jakarta, Rabu, (11/7/2018).

Kondisi makro ekonomi yang telah terjadi sejak tahun lalu itu pun menyebabkan perolehan laba PLN tahun lalu terjun bebas dari target yang diperkirakan.

Tahun lalu, laba perseroan ditaksir dapat mencapai Rp15 triliun, namun realisasinya hanya mencapai Rp4 triliun.

"Sekarang masih rugi Rp6 triliun (rugi kurs)," kata Sofyan.

Namun demikian, Direktur Keuangan PLN Sarwono Sudarto mengatakan kendati rugi kurs PLN mencapai Rp6 triliun, kinerja perseroan tidak terganggu. Dia mengklaim bahwa perseroan masih dapat mengantongi laba operasional.

"Operasi kami masih bagus, masih punya laba operasi. Kalau kurs itu kan naik turun aja. itu bukan cash out, hanya nilai buku," ujarnya ditemui usai Rapat Panja PMN Komisi VI DPR RI.

Menurutnya, gejolak kurs dan fluktuasi harga energi primer menjadi tantangan bagi PLN. Dia membandingkan kondisi tahun lalu cukup berat karena harga batu bara tinggi, sementara kurs terkendali. sedangkan tahun ini, harga batu bara sudah terkendali, kurs justru meningkat.

"Tapi kami sudah punya kebijakan dan alhamdulillah terkendali, karena kami hedging. Paling tidak 25% daripada kewajiban kami."

Sementara itu, adanya kebijakan pengaturan harga batu bara DMO untuk pembangkit sebesar US$70 per metrik ton telah membantu PLN melakukan penghematan sekitar Rp100 miliar.

Tag : PLN
Editor : Sepudin Zuhri

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top