Antisipasi Perang Dagang, Pemerintah Perkuat Industri Hulu

Pemerintah akan memprioritaskan pengembangan sektor industri hulu untuk mengantisipasi dampak negatif dari perang dagang yang diluncurkan oleh Amerika Serikat.
Amanda Kusumawardhani | 09 Juli 2018 18:14 WIB
Wakil Presiden Jusuf Kalla (tengah) bersama Ketua Umum Apindo Hariyadi B. Sukamdani (dari kiri), Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto, Kepala BKPM Thomas Lembong dan Ketua Dewan Pertimbangan Apindo Sofjan Wanandi membuka Musyawarah Nasional Apindo X, di Jakarta, Selasa (24/4/2018). - JIBI/Felix Jody Kinarwan

Bisnis.com, BOGOR — Pemerintah akan memprioritaskan pengembangan sektor industri hulu untuk mengantisipasi dampak negatif dari perang dagang yang diluncurkan oleh Amerika Serikat.

Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Thomas Lembong mengatakan nilai proyek yang masuk ke Indonesia cukup besar dan memiliki dampak yang erat terhadap rantai produksi hingga mencapai sektor hilir. Tak hanya itu, sektor hulu juga memiliki banyak proyek investasi yang berorientasi ekspor atau mengurangi impor.

“Contoh yg saudara sangat kenal adalah smelter, sangat sukses. Berkat keberhasilan Menteri Perindustrian dan dan pemerintah, sudah puluhan triliun dan sebentar lagi ratusan triliun investasi masuk ke situ,” ucapnya di Istana Bogor, Senin (9/7/2018).

Selain smelter, dia juga mengungkapkan perlunya untuk memberikan prioritas terhadap industri petrokimia. Prospek masuknya investasi ke sektor ini dinilainya cukup besar, bahkan dia mengklaim sudah ada beberapa proyek yang sudah di tangan pemerintah.

“Dari total kebutuhan petrokimia dan plastik kita, lebih separuh itu impor. Kalau kita bisa mempercepat realisasi investasi mega proyek di petriokimia kena tiga-tiganya, investasi masuk, ekspor meningkat, impor dikurangi demi menjaga kestabilan atau kewajaran neraca dagang,” tuturnya.

Tak jauh berbeda, Ketua Komisioner Otoritas Jasa Keuangan Wimboh Santoso mengharapkan pelaku usaha tidak perlu khawatir dengan isu perang dagang karena dampaknya sangat terbatas kepada Indonesia. “Sektor riil kita upayakan supaya bisa tumbuh, bisa leluasa ya untuk berproduksi dengan efisien dan orientasi ekspor,” ujarnya.

Berdasarkan data BKPM, realisasi investasi sektor manufaktur mencapai Rp62,7 triliun atau 33,9% dari total investasi pada kuartal I/2018. Sektor manufaktur menempati peringkat kedua, sedangkan peringkat pertama ditempati sektor jasa senilai Rp89,7 triliun atau 48,4% dari total investasi pada periode yang sama.

Tag : perang dagang AS vs China
Editor : Fajar Sidik

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top