Perang Dagang Adalah Kesempatan dalam Kesempitan, Benarkah?

Ketika dua mitra dagang bertikai, keduanya akan mencari sahabat baru untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri mereka.
M. Richard | 09 Juli 2018 16:54 WIB
Kendaraan baru di Yokohama, siap diekspor 16 Januari 2017. - REUTERS

Bisnis.com, JAKARTA -- Ketika dua mitra dagang bertikai, keduanya akan mencari ‘sahabat’ baru untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri mereka.

Hal tersebut wajar, karena di era globalisasi, sebuah negara tidak lagi bisa memproduski seluruh komoditas dan memprosesnya sendiri. Kalaupun mengambil langkah mundur, negara tersebut akan membutuhkan masa transisi yang tidak sebentar.

Oleh karena itu, sangat lumrah jika Indonesia ingin mencari keuntungan ekonomi di sela-sela pertikaian 2 raksasa ekonomi dunia, yaitu Amerika Serikat dan China.

Namun, RI dibentur banyak kendala produksi dalam negeri dan diplomasi untuk mencapai niatan tersebut.

Seperti diketahui, China menjatuhkan tarif sebesar 25% pada 659 produk AS, termasuk kedelai, otomotif, dan makanan laut.

Daftar balasan China meningkat hingga enam kali lipat dari versi yang dirilis pada April, tetapi nilainya tetap US$50 miliar. Sejumlah produk perdagangan bernilai tinggi seperti pesawat terbang dihapuskan dari daftar tersebut.

Di lain pihak, Presiden AS Donald Trump membalas dengan menjatuhkan tarif tambahan apabila China melakukan retaliasi.

Washington dan Beijing menabuh genderang perang perdagangan terbuka setelah beberapa kali gagal melakukan negosiasi untuk menyelesaikan keluhan AS atas peraturan industrial China, kurangnya akses pasar di China, dan defisit perdagangan sejumlah US$375miliar terhadap China.

Data perdagangan AS tahun lalu memperlihatkan impor AS dari China mencapai US$505 miliar, sedangkan ekspor hanya US$130miliar.

“Perhitungan kami untuk [produk] Indonesia bisa mengisi pasar Amerika dan China masih sangat terbatas,” kata ekonom Universitas Indonesia (UI) Fithra Faisal.

Meski demikian, pemerintah mengklaim masih mencari cara untuk dapat memanfaatkan beberapa komoditas.

Sebagai informasi, beberapa komoditas yang diekspor dari AS ke China a.l. jagung, kacang kedelai, daging babi, makanan laut, minyak nabati, jeruk florida, kapas, mobil, dan motor Harley Davidson.

Sementara itu, komoditas yang dikespor China ke AS mencakup aluminium, besi, baja, alat transportasi, barang elektronik, mesin manufaktur, produk otomotif, dan alas kaki.

Dari pemetaan di atas seharusnya sudah terlihat komoditas mana saja yang pangsa pasarnya bisa direbut oleh Indonesia. Namun, apakah kita mampu?

“Sebenarnya posisinya kita lebih banyak rawannya, karena kita cuma bisa memanfaatkan bahan nonpengolahan,” kata Ketua Apindo Hariyadi B.Sukamdani.

Padahal, kebutuhan AS pasti akan selalu terkait dengan supply chain, yang artinya komoditas yang diimpor selau dalam bentuk barang setengah jadi. Sementara itu, ndonesia masih belum dapat memproduksinya dalam jumlah banyak.

Ditambah, daya saing industri dalam negeri kalah dengan bebebrapa negara tetangga.

Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Shinta W Kamdani menjelaskan, Indonesia memiliki kesempatan untuk meningkatkan ekspor CPO, garmen dan tekstil.

“Cuma untuk itu kita perlu mengindentifikasi peluang dan melakukan lobi-lobi secara bilateral,” katanya.

Perang dagang ini juga mempunyai efek samping, yakni kekhawatiran akan naiknya impor lebih signifikan dikarenakan banyaknya harga komoditas-komoditas yang tertekan.

“[Dalam hal ini] impor bisa dimanfaatkan, hanya saja bisa membahayakan, karena akan disangka tidak dapat mengoptimalkan industri dalam negeri,” kata Direktur Eksekutif CORE Indonesia Mohammad Faisal.

Dari kalangan industri, Ketua Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Ade Surajat berpendapat peluang terbesar RI adalah ekspor benang pintal dan kain katun yang memiliki bahan baku kapas.

China, katanya, memiliki kawasan pertanian kapas sendiri. Bea masuk sebesar 25% kapas AS akan melindungi petani China. Di sisi lain, Indonesia menerapkan bea masuk 0% untuk impor kapas dari seluruh dunia.

“Sehingga hal tersebut, diprediksikan menjadi insentif untuk meningkatkan impor kapas dari Amerika lebih banyak,” sebutnya.

Jika diulas kembali, sebenarnya peluang RI untuk kebanjiran barang impor dari AS dan China lebih besar, ketimbang peluang untuk mendorong ekspor. Justru, di saat seperti inilah RI ditantang untuk memperbaiki permasalahan industri dan diplomasi untuk meningkatkan ekspor ke depannya.

Tag : perang dagang AS vs China
Editor : Wike Dita Herlinda

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top