Tik Tok Didesak lebih Ramah Anak

Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mendorong pengembang aplikasi TikTok agar mengubah platform-nya lebih ramah anak.
Duwi Setiya Ariyanti | 09 Juli 2018 17:46 WIB
Aplikasi Tik Tok di Play Store

Bisnis.com, JAKARTA – Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mendorong pengembang aplikasi TikTok agar mengubah platform-nya lebih ramah anak. 

Komisioner Bidang Pornografi dan Cyber Crime KPAI Margaret Aliyatul Maimunah mengatakan dari pertemuan yang dilakukan di  Kantor KPAI, Senin (9/7/2018), pihaknya mendorong agar TikTok lebih ramah untuk anak-anak. Adapun, dalam pertemuan itu, dihasilkan empat kesepakatan. 

Pertama, TikTok  yang ramah anak menjadi solusi pascapemblokiran yang dilakukan Kementerian Komunikasi dan Informatika. Kedua, KPAI akan terus melakukan pemantauan khususnya agar setiap konten yang beredar sesuai dengan prinsip perlindungan anak. 

Ketiga, KPAI berharap agar TikTok terus memperketat filter terhadap konten negatif terkait pornografi, sadisme, SARA, perundungan dan radikalisme. Terakhir, pihaknya pun meminta agar TikTok berkomitmen melakukan edukasi dan sosialisasi sehingga para anak yang menggunakan TikTok terhindar dari konten negatif. 

"Kami membantu agar TikTok lebih ramah anak," ujarnya dalam jumpa hari ini Senin (9/7/2018). 

Juru Bicara TikTok Dina Bhirawa mengatakan filter untuk konten negatif sebenarnya telah terpasang. Sebagai contoh, dia menyebut pihaknya menetapkan batasan umur pengguna yakni 14 tahun.  

Kemudian, pihaknya pun memiliki fitur lapor yang memungkinkan pengguna untuk melaporkan konten negatif yang  beredar di aplikasi berbagi video musik itu. Dina menyebut konten berisi SARA, pornografi, perundungan dan politik bisa saja diturunkan oleh pihak TikTok bila dilaporkan para pengguna. 

"Bagaimana cara mengantisipasi konten seperti  itu, ada tombol Report. Kalau kalian menemukan konten seperti itu, kalian bisa [klik tombol] Report. Peratauran komunitasnya jangan SARA, pronografi, bully dan pollitik. Ada batas usia, sekarang kami setting 14 tahun," kata Dina. 

Dia menyebut hingga kini status pemblokiran masih berlaku. Oleh karena itu, dia terus melakukan audiensi agar bisa melakukan perbaikan pada platform-nya. Dia menuturkan siap memperketat fitur filter yang ada juga melakukan kerja sama produksi konten positif dengan pemerintah. 

Tag : aplikasi mobile
Editor : Sutarno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top