BACKLOG PERUMAHAN: Kaltim Butuh 13.000 Unit

Kebutuhan perumahan atau backlog di Provinsi Kalimantan Timur mencapai 13.000 unit.
Gloria Fransisca Katharina Lawi | 08 Juli 2018 20:35 WIB
Ilustrasi - Bisnis

Bisnis.com, JAKARTA -- Kebutuhan perumahan atau backlog di Provinsi Kalimantan Timur mencapai 13.000 unit.

Ketua DPD Realestat Indonesia (REI) Provinsi Kalimantan Timur Bagus Susetyo memprediksi kebutuhan rumah di Kaltim sudah mencapai angka 13.000 unit. Bagus menyebut, angka ini memang masih jauh dari total keseluruhan backlog di Indonesia yang mencapai 11,6 juta unit.

"REI tahun lalu menargetkan 12.000 unit, tetapi tercapai hanya 4000 unit. Itu pun dari REI hanya 3.800 unit, sisanya disupport asosiasi lain," ungkap Bagus kepada Bisnis, Minggu (8/7/2018).

Dia berharap ada kebijakan di beberapa daerah yang belum membangun rumah baru karena masih harus menjual stok lama. Bagus menerangkan, saat ini proses pembangunan yang cukup lancar terjadi di Balikpapan. Sementara di Samarinda, ada problem pembangunan karena bank tanah besar dan mereka tak perli membeli tanah lagi, hanya tinggal mematangkan saja.

"Semester satu ini baru terbangun 1.000 unit dari total target 8000 unit. Separuh saja, bisa terbangun sudah luar biasa dengan keterlambatan akad dan lainnya," ujar Bagus.

Dia pun menambahkan pentingnya dukungan pemerintah dalam hal penugasan sarana dan prasarana. Tujuannya, agar tidak semua komponen itu masuk dalam kesiapan pengembang. Pasalnya, harus ada subsidi untuk pembangunan sarana dan prasarana.

"Ini kecil betul, jalan lingkungan, harus ada pengeras beton, kemudian meson dan saluran menjadi tanggung jawab pengembang," paparnya.

Bagus Susetyo mengatakan bisnis properti di Kaltim sempat menurun pada kuartal kedua. Kondisi ini bukan disebabkan oleh momen Ramadan dan Lebaran, bukan karena Pilkada Serentak 2018.

“Secara kuantitatif memang belum ada data pasti penurunan, tetapi secara kualitatif menurun dengann kondisi Ramadan, Lebaran, dan tahun ajaran baru,” terang Bagus.

Dia menyebutkan, saat ini segmen properti yang masih menggeliat di Kaltim adalah segmen rumah subsidi atau rumah dengan tipe kecil. Misalnya rumah dengan tipe; 38, 45, dan 60. Kalau untuk rumah dengan tipe di atas 70 cenderung mengalami stagnansi karena tidak bisa terjual.

“Bisa menjual pun tiga bulan pertama. Kaltim ini didukung oleh industri minerba, komoditas. Nah, sekarang dengan dulu beda. Dulu dimana masih ada proyek pembangunan, dengan adanya pemangkasan anggaran sehingga proyek konstruksi terselenggara dengan APBD,” terang Bagus lagi.

Dia menyebut selama dua tahun terakhir tidak ada proyek besar bersama yang sesungguhnya berpotensi meningkatkan bisnis properti. Ketiadaan proyek pemerintahan berdampak pula terhadap penurunan daya beli masyarakat secara bertahap.

Tag : backlog perumahan
Editor : M. Rochmad Purboyo

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top