DAMPAK PERANG DAGANG: Penetrasi Pasar Tradisional Perlu Diperkuat

Pemerintah Indonesia didesak untuk memperkuat penetrasi ke negara mitra dagang tradisional di tengah meningkatnya ancaman dari perang dagang antara AS dengan China.
Yustinus Andri DP | 08 Juli 2018 12:59 WIB
KM Gunung tengah melakukan bongkar muat kontainer di Pelabuhan Tanjung Priok. Kapal buatan galangan Meyer Werft, Jerman ini bisa mengangkut 98 TEUs kontainer di samping mengangkut penumpang. JIBI - Rivki Maulana

Bisnis.com, JAKARTA — Pemerintah Indonesia didesak untuk memperkuat penetrasi ke negara mitra dagang tradisional di tengah meningkatnya ancaman dari perang dagang antara AS dengan China.

Kepala Departemen Ekonomi di Center of Strategic and International Studies (CSIS) Yose Rizal Damuri mengatakan penetrasi tersebut dapat dilakukan dengan meningkatkan negosiasi kerja sama dagang dengan pasar tradisional seperti Uni Eropa dan negara di Asia Tenggara. Pasalnya, dia melihat Indonesia cukup tertinggal dengan negara lain dalam memanfaatkan pasar tradisionalnya.

“Tiga tahun pemerintahan Presiden Joko Widodo, negosiasi dagang memang diperkuat. Akan tetapi, apa yang dilakukan pemerintah itu masih kurang gencar dibandingkan negara lain seperti Malaysia dan Vietnam,” ujarnya kepada Bisnis.com.

Di sisi lain, dia mengharapkan pemerintah Indonesia tidak ikut larut dalam tren pemberlakukan proteksionisme seperti yang telah dilakukan oleh China dan AS. Menurutnya, Indonesia justru perlu terbuka dengan produk-produk yang mengalami hambatan ekspor dari China maupun AS.

“Kita bisa menjadi jembatan bagi kedua negara itu, dengan menyerap produk-produk yang diproteksi dan mengolahnya menjadi produk bernilai tambah untuk diekspor kembali, seperti komponen dan suku cadang otomotif atau elektronik,” lanjutnya.

Upaya tersebut dinilai Yose akan meningkatkan daya saing dan ekspor produk-produk dari Indonesia di pasar global. Indonesia juga akan mendapat keuntungan dari murahnya harga bahan baku dari China dan AS yang terpapar proteksi perdagangan, sehingga akan mendapatkan margin keuntungan yang lebih besar ketika kembali diekspor dalam bentuk produk bernilai tambah.

Tag : perang dagang AS vs China
Editor : Wike Dita Herlinda

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top