Akademisi Nilai Peternak Rakyat Perlu Penyuluhan

Pelaku usaha dan akademisi menilai pemerintah lebih baik menggalakkan penyuluhan terhadap peternak rakyat ketimbang membuat program bagi-bagi ternak gratis.
Pandu Gumilar | 02 Juli 2018 18:27 WIB
Presiden Joko Widodo (keempat kiri) didampingi Menteri PUPR Basuki Hadimuljono (ketiga kiri), dan Menteri Pertanian Amran Sulaiman (kanan) berbincang dengan peternak sapi saat menghadiri Jambore Peternakan Nasional 2017 di Buperta Cibubur, Jakarta, Minggu (24/9). - ANTARA/Indrianto Eko Suwarso

Bisnis.com, JAKARTA – Pelaku usaha dan akademisi menilai pemerintah lebih baik menggalakkan penyuluhan terhadap peternak rakyat ketimbang membuat program bagi-bagi ternak gratis.

Guru Besar Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor (IPB) Muladno mengatakan pemberian ternak gratis kepada masyarakat dirasa kurang tepat sasaran.

Menurutnya akan lebih baik jika pemerintah memberikan penyuluhan tentang keilmuan nonteknis kepada peternak dalam menggenjot produksi sektor peternakan, dengan menerjunkan akademisi langsung ke tengah peternak.

"Dari pengalaman peternak yang bekerjasama dengan mitra dan akademisi justru makin semangat beternaknya karena mereka merasa melakukan hal biasa tapi diapresiasi," katanya, Kamis (28/6/2018).

Muladno yang menjadi inisiator SPR (Sentra Peternakan Rakyat) sudah mendirikan 78 unit sentra dengan 1.000 indukan yang bergabung atau sekitar 400 peternak yang terdaftar. Sentra tersebut mengajari hal-hal non-teknis seperti cara bekerjasama antara satu sama lain.

"Peternak itu pada dasarnya individualis, mereka cuek satu sama lain. Maka itu perlu diajarkan caranya untuk teamwork," katanya.

Selama ini katanya 99% peternak kecil masih jauh dari ilmu pengetahuan. Menurutnya, hubungan universitas selama ini dengan peternak sangat jauh padahal idealnya antara keduanya harus bersinergi. "Untuk apa ilmu teknologi diciptakan tapi tidak bisa sampai ke peternak," katanya.

Oleh sebab itu, bagi Muladno sinergitas antara akademisi dan peternak dapat meningkatkan produktivitas. "Caranya kurang tepat dengan bagi-bagi sapi, kalau yang kami sarankan adalah melakukan penyuluhan pada peternak yang punya ternak, jadi fokusnya bukan bagi-bagi. Karena ada program bagi-bagi, jadinya banyak yang bikin kelompok ternak yang abal-abal. Terus hasilnya [program] pun gagal lagi," katanya.

Sementara itu, Ketua Perhimpunan Peternak Sapi dan Kerbau Indonesia (PPSKI) Teguh Boediyana mengatakan program berbagi ternak gratis berupa sapi dan ayam lokal harus dikaji sebelum diimplementasikan.

"Sebaiknya perlu dikaji lebih dahulu implementasi program yang sama pada tahun-tahun sebelumnya. Pemerintah harus transparan atas hasil program yang sama dan sejauh mana keberhasilannya," katanya pada Bisnis, Senin (2/7/2018).

Sejauh ini Teguh mengatakan belum pernah mendengar evaluasi terkait program serupa yang dilakukan sebelumnya jadi sebaiknya perlu pengkajian ulang supaya program bisa berjalan sukses.

Sebelumnya, Kementerian Pertanian berencana membagikan 15.000 ekor sapi indukan kepada pemerintah daerah secara gratis untuk mendorong program swasembada sapi pada 2022. Target pemerintah adalah memproduksi 33 juta sapi potong pada periode tersebut untuk memenuhi kebutuhan pasar.

Tag : peternakan
Editor : Bunga Citra Arum Nursyifani

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top