Pelaku Industri Khawatir Banjir Produk Impor Pukul Kinerja Manufaktur Nasional

Melonjaknya angka impor memicu kekhawatiran para pelaku industri karena dapat menghambat pertumbuhan kinerja manufaktur nasional.
Anggara Pernando | 01 Juli 2018 20:00 WIB
Ilustrasi industri berbahan baku benang. - Bloomberg/David Paul Morris

Bisnis.com, JAKARTA - Melonjaknya angka impor memicu kekhawatiran para pelaku industri karena dapat menghambat pertumbuhan kinerja manufaktur nasional.

Redma Gita Wiraswasta, Sekretaris Jenderal Asosiasi Produsen Serat dan Benang Filamen Indonesia (APsyFI), mengatakan tekanan yang dihadapi pelaku industri adalah kemudahan produk hilir masuk ke dalam negeri.

Redma menuturkan, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), ekspor hanya naik 6,16% sepanjang Januari-Mei 2018, sedangkan impor melonjak 28,02%. Sebagai contoh, di industri tekstil, impor melonjak 19,5%.

“Sektor lain juga mengalami lonjakan [impor] rata-rata di atas 20%,” katanya, akhir pekan lalu.

Redma mengatakan sudah mengirimkan surat resmi ke Menteri Perdagangan maupun Menteri Perindustrian agar impor produk dari luar negeri lebih terkendali.

Pihaknya menilai, impor—yang disebutkan oleh pemerintah bakal menopang pertumbuhan industri—justru pada kenyataannya menekan pertumbuhan kinerja manufaktur nasional.

“Angka kenaikan ekspor tidak signifikan dibandingkan dengan impor. Bahkan utilisasi produsen kain di bawah 50%. Artinya semua bahan baku seharusnya cukup dipasok oleh produsen lokal,” katanya.

Tag : manufaktur
Editor : Maftuh Ihsan

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top