Pertumbuhan Manufaktur Semester II/2018 Diprediksi Lebih Lambat dari PDB

Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) memproyeksikan pertumbuhan industri manufaktur pada semester II/2018 mencapai 4,8% hingga 5%, atau masih lebih rendah dari pertumbuhan ekonomi 5,4% (APBN 2018).
M. Richard | 01 Juli 2018 15:25 WIB
Aktivitas karyawan di pabrik karoseri truk di kawasan industri Bukit Indah City, Purwakarta, Jawa Barat, Kamis (13/2). - Bisnis.com/NH

Bisnis.com, JAKARTA — Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) memproyeksikan pertumbuhan industri manufaktur pada semester II/2018 mencapai 4,8% hingga 5%, atau masih lebih rendah dari pertumbuhan ekonomi 5,4% (APBN 2018).

Hal tersebut dikarenakan masih berlanjutnya fluktuasi rupiah, dan efek perang dagang yang membuat banjirnya produk industri murah dari China. Sehingga membuat ketatnya persaingan usaha dalam negeri, ditengah permintaan masyarakat yang belum kuat. 

"Pada semester II industri manufaktur masih melanjutkan proses pemulihan, karena sejauh ini memang terjadi peningkatan kinerja industri dalam negeri," kata ekonom INDEF Bhima Yudhistira Adhinegara kepada Bisnis.com, Minggu (1/7/2018).

Bhima menjelaskan, kinerja Industri pada semester I/2018 sudah menunjukkan perkembangan yang cukup baik. Hal tersebut ditunjukan dari meningkatnya impor bahan baku dan barang modal.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, impor bahan baku/penolong dan barang modal Januari-Mei mencapai masing-masing US$57,96 miliar dan US$12,63 miliar, atau lebih tinggi dari periode yang sama tahun lalu yang hanya US$47,27 miliar dan US$9,44 miliar.

Hanya saja, peningkatan impor tersebut juga mendeskripsikan ketergantungan industri dalam negeri terhadap bahan baku luar. Ditambah, dengan pelemahan nilai tukar membuat biaya impor makin tinggi, sehingga dapat mempengaruhi kinerja industri.

Contohnya, pelemahan nilai tukar rupiah menyebabkan industri dalam negeri terpukul, contohnya industri komputer/barang elektronik, dan kertas/barang dari kertas, yang mana pertumbuhan pada kuartal I/2018 mengalami penurunan sebesar 13,36% (yoy) dan 11,24% (yoy).

"Oleh karena itu, selain meningkatkan kinerja indsutri, penyediaan bahan baku substitusi juga masih menjadi pekerjaan rumah pemerintah," katanya.

Selain itu, INDEF berharap, pemerintah dapat memanfaatkan celah dari perang dagang AS China terutama barang elektronik, dan tekstil pakaian jadi untuk meningkatkan kinerja industri dan ekspor.

"Terutama, untuk kedua industri ini dari China yang tadinya sangat murah masuk ke AS, namun pasca perang dagang menjadi mahal, dan peluang untuk Indonesia," jelas Bhima.

Sebagai informasi, Nikkei Indonesia Manufacturing Purchasing Managers Index menunjukkan, indeks manufaktur Tanah Air bulan Mei 2018 di posisi 51,7, naik dari posisi 51,6 di bulan sebelumnya. 

PMI di atas level 50 menunjukkan manufaktur berekspansi. Sedangkan di bawah level 50, ada kontraksi di sektor ini.

Tag : manufaktur
Editor : Wike Dita Herlinda

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top