46 Proyek Energi Terbarukan yang Tersendat Pendanaan Diminta Kumpulkan Data

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral mendorong 46 independent power producer (IPP) pembangkit energi baru dan terbarukan (EBT) yang belum menuntaskan pendanaan untuk segera mengajukan data profilnya ke kementerian. Hal ini diperlukan guna mencari solusi pendanaan yang tersendat.
Denis Riantiza Meilanova | 28 Juni 2018 20:06 WIB
Siswa memasang panel surya di atas gedung SMK Prakarya Internasional, Bandung, Jawa Barat, Rabu (30/5/2018). - JIBI/Rachman

Bisnis.com, JAKARTA -- Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral mendorong 46 independent power producer (IPP) pembangkit energi baru dan terbarukan (EBT) yang belum menuntaskan pendanaan untuk segera mengajukan data profilnya ke kementerian. Hal ini diperlukan guna mencari solusi pendanaan yang tersendat.

Harris, Direktur Aneka Energi Baru dan Energi Terbarukan Direktorat Jenderal EBTKE Kementerian ESDM, mengatakan pihaknya telah menjalin komunikasi dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk menjembatani pengembang dengan pihak perbankan.

Pihak OJK mengharapkan agar para pengembang tersebut dapat memberikan data profil pengembang dan proyeknya untuk bisa dicarikan skema pembiayaan yang tepat. Namun, hingga kini belum banyak pengembang yang merespon.

“Dari 46 itu baru 13 yang memberikan respon. Itu yang sekarang masih kami coba untuk minta lagi, kami lakukan pendekatan hampir tiap hari. Berikan info ke kami karena ini penting, kami akan bicarakan dengan OJK dan tim lain,” kata Harris di Jakarta, Kamis (28/6/2018).

Dia mengatakan pengembang yang proyeknya tersendat tersebut umumnya tidak mampu menyerahkan jaminan seperti yang disyaratkan bank dan kesulitan mendapatkan pinjaman dengan bunga rendah.

Menurutnya, OJK dapat membantu terlebih dengan adanya program green financing di mana nantinya akan ada kewajiban bagi perbankan mengalokasikan sekian persen dari portofolionya untuk membiayai proyek-proyek hijau. Salah satu yang akan menjadi fokusnya adalah proyek-proyek energi baru terbarukan (EBT).

Berdasarkan data PLN, hingga triwulan pertama tahun ini sebanyak 46 dari 70 PPA pembangkit EBT pada 2017 belum mampu mencapai financial close. Jumlah tersebut terdiri dari 38 pembangkit listrik tenaga minihidro (PLTMH), lima PLT bioenergi, dua pembangkit listrik tenaga surya (PLTS), dan satu pembangkit listrik tenaga air (PLTA).

Sebanyak 46 PPA yang sudah ditandatangani tersebut belum efektif karena pengembang belum menyerahkan jaminan pelaksanaan kepada PLN. PLN memberikan waktu 12 bulan kepada pengembang untuk financial close. Jika lebih dari waktu yanh ditentukan PPA tersebut terancam dibatalkan.

Tercatat baru tiga pembangkit yang sudah mencapai commercial operation date (COD). Pembangkit tersebut terdiri dari PLTMH, PLT Bioenergi, dan PLTA.

Sedangkan yang telah memasuki tahapan kontruksi sebanyak 17 pembangkit. Sisanya empat pembangkit masih dalam persiapan kontruksi.

Tag : energi terbarukan
Editor : Sepudin Zuhri

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top