Gapmmi: Kebutuhan Gula Rafinasi 3 Bulan ke Depan 800.000 Ton

Kalangan industri bersiap mengajukan kuota impor gula mentah untuk kebutuhan rafinasi sebesar 800.000 ton di JuliSeptember meski hingga kini pemerintah belum memutuskan skema impor tersebut.
Rayful Mudassir | 27 Juni 2018 14:26 WIB
Alat khusus pengangkat mengatur tumpukan karung berisi gula rafinasi di salah satu pabrik di Makassar, Sulsel, beberapa waktu lalu. - Bisnis/Paulus Tandi Bone

Bisnis.com, JAKARTA — Kalangan industri bersiap mengajukan kuota impor gula mentah untuk kebutuhan rafinasi sebesar 800.000 ton di Juli—September meski hingga kini pemerintah belum memutuskan skema impor tersebut.

Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman seluruh Indonesia (Gapmmi) Adhi S Lukman mengatakan memperkirakan kebutuhan industri hingga tiga bulan ke depan sejak Juli – September sekitar 800.000 ton. Hasil ini berdasarkan kuota impor yang tersisa sekitar 1,8 juta selama semester II/2018.

“Kebutuhan gula rafinasi sekitar 800.000 ton sampai September 2018,” kata Adhi kepada Bisnis.com belum lama ini.

Menurutnya industri makanan minuman tidak mengajukan angka kebutuhan baru kepada pemerintah, namun hanya mengacu pada sisa kuota impor yang diberikan pemerintah sejak awal tahun sebesar 1,8 juta ton dari total 3,6 juta ton selama kurun 1 tahun.

Jika Gapmmi mengajukan kuota untuk kebutuhan tiga bulan ke depan sebesar angka tersebut, artinya akan tersisa 1 juta ton gula rafinasi yang belum digunakan setidaknya dalam kurun tiga bulan terakir mulai Oktober hingga Desember.

Adhi mengaku pihaknya telah menyepakati dengan Kemenperin tentang kuota tersebut. Jika kuota 800.000 ton habis sebelum September, maka pemerintah akan mengeluarkan kembali sesuai kebutuhan.

"Yang penting bahan baku lancar. Kemenperin sudah keluarkan rekomendasi untuk 2 perusahaan, yang lain sedang proses," katanya.

Di samping itu, Adhi mengakui serapan gula rafinasi di kalangan industri pada semester I/2018 melambat. Namun dipastikan kondisi ini tidak dialami oleh semua perusahaan. Sementara itu saat ini mulai terdapat pabrik gula rafinasi yang sudah kehabisan stok.

“Realisasi impor raw sugar sampai Juni diperkirakan terealisasai semua 1,8 juta ton. Kecuali pabrik yang mengalami kebatakan sehingga diberi perpanjangan izin impor,” katanya.

Adapun Adhi menerangkan, kemungkinan penerapan skema impor per kuartal atau per tiga bulan dilakukan karena melihat kondisi stok gula rafinasi di produsen gula rafinasi. Meskipun terdapat pabrik yang kehabisan stok, namun masih ada pula pabrik gula rafinasi yang masih menyimpan stok.

Hal itu menjadi dasar perkiraan skema akan berubah dari semesteran menjadi per kuartal. Artinya hanya produsen gula rafinasi yang kehabisan stok bakal mendapat izin impor, sementara produsen yang masih memiliki stok gula, hanya akan diberikan perpanjangan izin yakni pabrik.

Sementara itu Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan Oke Nurwan mengaku sudah ada usulan dari Kementerian Perindustrian untuk melakukan skema impor per kuartal. Namun belum diketahui kapan evaluasi aturan izin ini akan diputuskan.

“Usulan itu belum diputuskan, baru ada usulan dari Kemenperin. Harus dibahas dan diputuskan bersama [terlebih dahulu],” katanya.

 

Tag : gula rafinasi
Editor : Wike Dita Herlinda

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top