Penambahan Konsumsi Pertamax Paling Tinggi Saat Mudik Balik Lebaran

MEDANKesadaran masyarakat di wilayah Sumatra Bagian Utara atas penggunaan bahan bakar minyak beroktan tinggi Pertamax dan Pertamax Turbo terbukti meningkat signifikan.
MediaDigital | 26 Juni 2018 15:18 WIB

MEDAN—Kesadaran masyarakat di wilayah Sumatra Bagian Utara atas penggunaan bahan bakar minyak beroktan tinggi Pertamax dan Pertamax Turbo terbukti meningkat signifikan.

Berdasarkan data Satgas Ramadhan Idul Fitri 2018 pertumbuhan penjualan Pertamax hingga 21 Juni 2018 meningkat 18% di atas rata-rata penyaluran harian normal menjadi 1.067 KL/hari.

Tak hanya Pertamax, konsumsi Pertamax Turbo juga meningkat 7,9% di atas rata-rata penyaluran harian normal menjadi 230 KL/hari.

Pertamax menjadi produk Gasoline yang mengalami peningkatan paling tinggi dibandingkan produk lainnya. Adapun peningkatan penjualan tertinggi berada di Medan, Deli Serdang, Padang, dan Bukit Tinggi.

Peningkatan penjualan Pertamax disokong oleh konsumen loyal yang telah memahani pentingnya penggunaan BBM berkualitas yang sesuai dengan spesifikasi teknologi mesin kendaraan. Begitu juga para pengendara roda dua yang setia menggunakan produk pertamax.

Selama periode Satgas RAFI 2018, penyaluran BBM berjalan aman dan terkendali. Pertamina MOR I melakukan berbagai program seperti mobile storage BBM, Satgas Motorist, Kiosk Pertamax, serta perencanaan penyaluran distribusi yang baik.

Masyarakat telah memahami dampak buruk yang akan menimpa jika menggunakan bensin berkualitas rendah, yang tidak sesuai dengan spesifikasi mesin.

Jika masyarakat menggunakan kendaraan dengan spesifikasi BBM oktan tinggi, tetapi masih menggunakan oktan rendah, komponen-komponen mesin mobil akan cepat rusak.

“Mobil-mobil saat ini dilengkapi dengan Engine Control Unit (ECU) dan komponen-komponen mesin yang sudah disetel untuk oktan tertentu,” ujar Manager Communication and CSR PT Pertamina MOR I Rudi Ariffianto.

Kendaraan roda empat berteknologi terbaru yang dilengkapi dengan engine control unit hanya dalam hitungan bulan dapat menimbulkan kerusakan jika diberi BBM oktan rendah.

Tak hanya itu, dampak lain yang sangat merugikan penggunaan BBM oktan rendah pada mobil teknologi terbaru adalah engine control unit tidak mampu membaca penggunaan BBM. Akibatnya, mobil akan sering mogok.

Penggunaan BBM beroktan tinggi tentunya juga lebih ramah lingkungan. Apalagi, pemerintah telah mengeluarkan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan No. 20/2017 tentang Baku Mutu Emisi Gas Buang Kendaraan Bermotor Tipe Baru.

Melalui peraturan yang akan diterapkan ke produksi mobil baru bermesin bensin mulai 18 Oktober 2018, emisi mobil baru berbahan bakar bensin harus sesuai dengan standar emisi Euro 4. Adapun standar oktan tinggi pada mobil bermesin diesel akan diterapkan pada 10 Maret 2021.

Mari gunakan BBM berkualitas, yang lebih hemat dan ramah lingkungan...

Tag : pertamina
Editor : MediaDigital

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top