Pengusaha Angkutan Sungai Siap Bantu Perbaiki Standar Keselamatan di Danau Toba

Gabungan Pengusaha Nasional Angkutan Sungai, Danau dan Penyeberangan (Gapasdap) berencana merangkul para pengusaha angkutan penyeberangan di Danau Toba menyusul musibah tenggelam KM Sinar Bangun.
Rivki Maulana | 25 Juni 2018 17:55 WIB
Warga berada di dalam kapal motor saat akan bersandar di Pelabuhan Tigaras untuk membeli bahan kebutuhan, di Simalungun, Sumatra Utara, Rabu (20/6/2018). Kapal motor yang mampu mengangkut sekitar 40 orang penumpang tersebut merupakan salah satu alat transportasi warga dan wisatawan antar pulau di Danau Toba. - ANTARA/Irsan Mulyadinz

Bisnis.com, JAKARTA -- Gabungan Pengusaha Nasional Angkutan Sungai, Danau dan Penyeberangan (Gapasdap) berencana merangkul para pengusaha angkutan penyeberangan di Danau Toba menyusul musibah tenggelam KM Sinar Bangun.

Dengan menjadi anggota Gapasdap, pelaku usaha diharapkan bisa mendapat kompetensi keselamatan pelayaran yang mumpuni.

Ketua Umum Gapasdap, Khoiri Sutomo mengatakan saat ini anggota Gapasdap yang beroperasi di angkutan penyebrangan danau memang minim. Sebagian besar anggota Gapasdap yang mencapai sekitar 300 perusahaan beroperasi di penyebrangan antarpulau dan sungai.

Adapun, jumlah pengusaha angkutan penyebrangan di Danau Toba menurut catatan Gapasdap mencapai lebih dari 200 pengusaha.

"Kami punya program pelatihan dan juga pembinaan. Dengan menjadi anggota Gapasdap, sosialisasinya akan lebih mudah. Yang jelas, kami ingin industri ini bisa terus berkembang, termasuk di Danau Toba," jelasnya kepada Bisnis di Jakarta, Senin (25/6/2018).

Untuk diketahui, KM Sinar Bangun tenggelam pada 18 Juni 2018 lalu. Berdasarkan penuturan korban yang selamat, kondisi kapal kelebihan kapasitas dan penumpangjuga tidak dilengkapi jaket keselamatan atau life jacket. Tidak hanya itu, kapal juga berlayar tanpa dilengkapi manifes. Ratusan orang hingga kini masih dinyatakan hilang.

Khoiri menilai, aspek keselamatan harus tetap diutamakan kendati risiko penyebrangan di danau terbilang tidak seriskan angkutan laut atau angkutan udara. Dia beralasan, perairan di danau yang tawar menyebakan korosi yang lebih lambat ketimbang perairan laut. Namun, faktor risiko yang lebih rendah tersebut menurutnya tidak boleh menjadi alasan adanya relaksasi.

Gapasdap mendukung upaya Kementerian Perhubungan untuk membenahi pengawasan angkutan penyebrangan di danau. Sejauh ini, Kemenhub sudah membentuk tim ad hoc yang bertugas sementara menggantikan fungsi pengawasan yang dijalankan Dinas Perhubungan Provinsi Sumatra Utara.

Di samping itu, pembangunan kapal penyebrangan dengan kapasitas besar juga memang mendesak dilakukan. Kemenhub melansir tahun depan Danau Toba akan mendapat tambahan lima kapal baru dengan bobot 300 GT. Kapal ini bisa memuat 280 penumpang, 32 mobil, dan 17 truk. Kapasitas kapal ini jauh lebih besar dibandingkan dengan kapal penyebrangan yang biasa melayani angkutan di Danau Toba.

Pembenahan pengawasan dan infrasruktur angkutan penyebrangan menurut Khoiri juga perlu dibarengi sosialisasi yang massif terkait keselamatan pelayaran. Dia mennyebut, penumpang juga punya tanggung jawab untuk menjaga keselamatan selama pelayaran. "Ini penting karena Danau Toba pasti akan ramai saat Nataru [Natal dan Tahun Baru]," pungkasnya.

Tag : danau toba
Editor : Fajar Sidik

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top