LRT Palembang Diyakini Rampung Juli 2018

Kementerian Perhubungan (Kemenhub) optimistis proyek Light Rapid Transit (LRT) Sumatra Selatan (Sumsel) akan selesai dan dioperasikan pada pertengahan Juli 2018.
Hadijah Alaydrus | 23 Juni 2018 09:30 WIB
Rangkaian Light Rail Transit (LRT) Palembang melewati stasiun OPI Jakabaring, Palembang, Sumatra Selatan, Selasa (22/5/2018) dini hari. - ANTARA/Nova Wahyudi

Bisnis.com, JAKARTA -- Kementerian Perhubungan (Kemenhub) optimistis proyek Light Rapid Transit (LRT) Sumatra Selatan (Sumsel) akan selesai dan dioperasikan pada pertengahan Juli 2018.

Hal tersebut guna mendukung perhelatan akbar Asian Games 2018. Direktur Jenderal Perkeretaapian Kemenhub Zulfikri mengatakan pihaknya sudah memastikan tingkat keamanan dan keselamatan moda transportasi ini dalam pengoperasiannya nanti.

"Terkait hal tersebut, Kemenhub telah melakukan serangkaian pengujian sarana dan prasarana LRT pada Mei 2018 dan uji coba dinamis telah dilakukan pada Kamis (21/6/2018) dari Stasiun Jakabaring menuju Stasiun Palembang Icon," ungkapnya dalam keterangan resmi yang diterima Bisnis, Sabtu (23/6).

Pembangunan LRT Sumsel merupakan amanat Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 116 Tahun 2015 dan Perpres 55 Tahun 2016 tentang Perubahan atas Peraturan Presiden Nomor 116 Tahun 2015 tentang Percepatan Penyelenggaraan Kereta Api Ringan/Light Rail Transit di Provinsi Sumatera Selatan, yang menugaskan PT Waskita Karya (Persero) Tbk. sebagai pelaksana Pembangunan Prasarana Kereta Api Ringan/LRT di Sumatera Selatan serta PT KAI (Persero) sebagai operator LRT Sumatera Selatan.

Pekerjaan pembangunan LRT Sumsel sepanjang kurang lebih 23 kilometer (km) dilengkapi dengan 13 stasiun, 1 depo, dan 9 gardu listrik dengan menggunakan lebar jalur rel 1.067 mm dan third rail electricity 750 VDC telah dimulai sejak Oktober 2015 dengan pembiayaan APBN.

LRT Sumsel akan menghubungkan Bandara Internasional Sultan Mahmud Badaruddin dengan kawasan Sport City Jakabaring.

Selain digunakan sebagai sarana transportasi yang dapat mengurangi beban jalan raya dan penggunaan kendaraan pribadi, juga akan digunakan sebagai venue perhelatan Asian Games 2018.

Zulfikri memaparkan jenis pekerjaan LRT Sumsel sangat bervariasi. Mulai dari pekerjaan konstruksi, stasiun, sarana, depo yang luas, penanganan tanah yang disebabkan oleh karakteristik yang berbeda serta pekerjaan yang memerlukan penguasaan teknologi tinggi baik untuk jenis sarana, infrastruktur dan system fasilitas operasinya.

Secara keseluruhan, proyek ini berupa konstruksi layang (elevated track) dengan dilengkapi third rail untuk power supply serta menggunakan teknologi slab track (tanpa ballast) pada jalur rel serta menggunakan system persinyalan fixed Block.

Berbeda dengan LRT Jabodebek yang menggunakan U-shaped Girder dan LRT Jakarta yang menggunakan Box Girder, LRT Sumsel menggunakan I Girder.

Adapun, lebar spoor LRT Sumsel adalah 1.067 mm sedangkan LRT Jabodebek dan LRT Jakarta lebarnya 1.435 mm.

"Perbedaan karakteristik jenis konstruksi tersebut di atas mengakibatkan adanya variasi biaya konstruksi masing-masing LRT," ungkapnya.

Namun, Kemenhub memastikan biaya konstruksi diyakini telah sesuai dengan harga pasar. 

"Nilai investasi, apabila dibagi panjang jalur kereta api tersebut, dinilai masih cukup realistis dan telah dilakukan perbandingan dengan negara-negara di kawasan ASEAN," tegas Zulfikri.

Sebagai contoh, lanjutnya, biaya pembangunan LRT Kelana Jaya Line di Malaysia diketahui sebesar Rp817 miliar/km, sedangkan untuk biaya pembangunan LRT di Manila sebesar Rp907 miliar/km.

Zulfikri menambahkan anggaran pemerintah yang digunakan dalam pembangunan LRT Sumsel telah diproses secara akuntabel dan melalui review secara berlapis. Mulai dari review oleh konsultan independen yang berkualifikasi internasional, maupun audit internal maupun audit eksternal oleh instansi terkait agar sesuai dengan prinsip Good Coorporate Governance (GCG).

"Sebelumnya, usulan pembiayaan untuk proyek LRT ini oleh kontraktor awalnya diajukan sebesar Rp12 triliun tapi setelah melalui beberapa tahapan review dapat ditekan menjadi Rp10,9 triliun," sebutnya.

Dalam pelaksanaan pembangunannya, pemerintah memastikan Waskita Karya dibantu oleh konsultan pengawas yang berkualifikasi Internasional yakni SMEC Internasional asal Australia. Perusahaan itu disebut mempunyai pengalaman yang cukup luas di beberapa negara di kawasan Asia, Australia, Afrika, Eropa, serta Amerika.

Tag : kemenhub, LRT
Editor : Annisa Margrit

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top