Kenaikan Suku Bunga Acuan Akan Pukul Industri Kecil

Kenaikan suku bunga acuan yang diperkirakan bakal diambil Bank Indonesia setelah peningkatan Fed Fund Rate berpotensi mengancam industri skala kecil dan menengah.
Annisa Sulistyo Rini | 20 Juni 2018 22:27 WIB
Industri kecil yang memproduksi mainan memamerkan hasil produksi. - JIBI

Bisnis.com, JAKARTA—Kenaikan suku bunga acuan yang diperkirakan bakal diambil Bank Indonesia setelah peningkatan Fed Fund Rate berpotensi mengancam industri skala kecil dan menengah.

BI sebelumnya menyatakan bakal menyiapkan kebijakan lanjutan untuk menghadapi perkembangan baru dari Bank Sentral Amerika Serikat dan juga Eropa. Pada Mei, BI telah menaikkan suku bunga acuan sebanyak 2 kali sebesar 50 basis poin.

Mohammad Faisal, Direktur Penelitian Center of Reform and Economic (CORE), mengatakan kebijakan penaikan suku bunga acuan memiliki dua dampak yang berbeda terhadap industri manufaktur. Dari sisi nilai tukar, kebijakan kenaikan suku bunga acuan bertujuan memperkuat nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat.

Dengan demikian, industri yang berorientasi ekspor atau industri yang memiliki ketergantungan impor bahan baku yang besar akan diuntungkan, terutama untuk industri berskala sedang dan besar.

Sementara itu, dari sisi pendanaan, suku bunga kredit dan pendanaan lain seperti obligasi akan ikut terkerek. “Bagi industri yang membutuhkan pendanaan dari bank maupun institusi lain, cenderung akan dirugikan karena bunga pendanaan lebih mahal. Ini lebih ke industri skala kecil menengah (IKM),” ujarnya kepada Bisnis, Rabu (20/6/2018).

Apalagi, dari sisi jumlah, Faisal menyebutkan IKM lebih besar dibandingkan dengan jumlah industri berskala sedang dan besar. Lebih jauh, dia menuturkan pasar berharap Bank Sentral tidak cepat menaikkan suku bunga acuan secara agresif karena akan memperlambat penyaluran kredit ke sektor riil. “Ketika suku bunga rendah saja, penyaluran kredit sudah melambat apalagi dinaikkan lagi,” katanya.

Sementara itu, Bhima Yudistira, Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef), mengatakan para pelaku industri manufaktur yang memiliki pendanaan dari perbankan dan sumber lain harus menyesuaikan rencana bisnis jangka pendek serta jangka panjang untuk menghadapi kelanjutan kenaikan suku bunga acuan.

Pasalnya, bank-bank umunya menyesuaikan bunga kredit modal kerja pada 1 bulan setelah kenaikan suku bunga acuan. Langkah ini akan mendorong perusahaan untuk menahan rencana perluasan bisnis.

“Memang ini pilihan berat untuk BI, karena kenaikan suku bunga acuan di sisi lain bertujuan menekan pelemahan nilai tukar yang lebih dalam. Oleh karena itu industri manufaktur harus menyesuaikan rencana bisnis jangka pendek maupun jangka panjang dan memiliki strategi alternatif,” jelasnya.

Tag : industri
Editor : Ratna Ariyanti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top