RoboFly Berukuran Lalat Bertenaga Laser

Robot serangga antara lain bermanfaat untuk melakukan tugas memantau pertumbuhan tanaman di lahan pertanian atau mendeteksi kebocoran gas
Gombang Nan Cengka | 19 Juni 2018 14:11 WIB
RoboFly, robot berukuran serangga yang dikembangkan di Universitas Washington Amerika Serikat - Universitas Washington

Bisnis.com, JAKARTA — RoboFly, robot buatan Universitas Washington, Amerika Serikat, mengingatkan kita pada serangga.

Robot serangga antara lain bermanfaat untuk melakukan tugas memantau pertumbuhan tanaman di lahan pertanian atau mendeteksi kebocoran gas. Seperti serangga, robot ini mengepakkan sayap berukuran kecil.

Ukurannya yang mungil membuatnya dapat lebih mudah menyusup ke lubang dan rongga yang tidak mungkin ditembus oleh robot terbang yang berukuran lebih besar.

Sayangnya, ukuran mungil ini juga menyebabkan keterbatasan buat robot serangga. Sebagai contoh, rangkaian elektronika dan sumber daya untuk mengendalikan robot serangga ini terlalu berat.

Akibatnya robot serangga saat ini harus menggunakan kawat yang berfungsi untuk mengirimkan arus listrik dan mengendalikan robot tersebut dari jauh.

Tentunya keterbatasan ini sangat mengganggu untuk robot yang dirancang untuk dapat terbang. Sawyer Fuller, Shyam Gallakota, dan Yogesh Chukewad dari Universitas Washington merancang robot serangga yang bisa menerima daya menggunakan sinar laser. Ini membuat robot tersebut tidak perlu lagi terikat oleh kawat untuk kendali dan sumber daya listrik.

Untuk mengkonversi energi yang diterima dari sinar laser, robot dilengkapi dengan sel fotovoltaik, yang bisa mengubah energi cahaya menjadi arus listrik.

 Para peneliti dari Universitas Washington juga merancang rangkaian listrik yang bisa menaikkan tegangan dari 7 volt menjadi 240 volt karena tegangan listrik keluaran sel fotovoltaik ini masih belum cukup untuk menggerakkan motor listrik yang menggerakan sayap si robot.

Sebagai “otak” dari robot ini, tim peneliti mengintegrasikan mikrokontroler, yang mengendalikan gerakan sayap robot tersebut. Pengendali mikro tersebut mengatur agar robot bisa menggerakkan sayap meniru gerakan serangga.

Karena masih berbentuk purwarupa, kemampuan RoboFly pada saat ini masih terbatas pada terbang dan mendarat. Bila sel fotovoltaik tidak lagi terkena sinar laser, robot tersebut akan kehabisan daya dan tidak bisa lagi terbang. Langkah berikutnya dari pengembangan robot ini adalah pengembangan sistem untuk mengarahkan laser sehingga RoboFly bisa terbang dengan lebih leluasa.

Sumber energi alternatif lainnya yang juga bisa melengkapi robot serangga seperti ini adalah baterai mikro atau sistem energi permanen dari gelombang radio.

Laporan penelitian tentang RoboFly ini dipresentasikan dalam acara International Conference on Robotics and Automation di Brisbane, Australia, tanggal 23 Mei 2018.

Tag : inovasi
Editor : Demis Rizky Gosta

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top