Pengusaha Besi Baja RI Khawatirkan Dampak Perang Dagang AS-China

Asosiasi Industri Besi dan Baja Indonesia (IISIA) mengaku sedikit khawatir dengan potensi berlimpahnya besi baja asal China dikarenakan imbas perang dagang Amerika-China.
M. Richard | 19 Juni 2018 20:58 WIB
Aktivitas di proyek pembangunan Light Rapid Transit (LRT) di Kelapa Gading, Jakarta. - JIBI/Abdullah Azzam

Bisnis.com, JAKARTA — Asosiasi Industri Besi dan Baja Indonesia (IISIA) mengaku sedikit khawatir dengan potensi berlimpahnya besi baja asal China dikarenakan imbas perang dagang Amerika-China.

 Direktur Eksekutif IISIA Hidayat Triseputro mengatakan, pihaknya sedang mencari cara untuk mencegah limpahan impor besi baja dari China.

 Adapun, cara yang dimaksud adalah kontrol produk berstandar nasional Indonesia (SNI) dan pelarian HS number (kode kepabeanan), peningkatan penggunaan produksi dalam negeri (P3DN), tingkat komponen dalam negeri (TKDN), trade remedies dan lain-lain.

 "Ya kita sedang mengantisipasi lah, dan juga komuniskasi dengan pemerintah, melalui berbagai regulasi yang terus diupayakan," katanya kepada Bisnis.com, Selasa (19/6/2018).

 Dia mengatakan, dalam situasi ini, pihaknya akan mencoba untuk melindungi pangsa pasar dalam negeri terlebih dahulu.

 Karena utiliasasi kapsitas industri besi baja saat ini masih 50%, yang artinya produk impor akan membuat indsutri dalam negeri makin tidak efektif.

 "Untuk baja-baja konstruksi, ini segment pasar terbesar, kita punya kapasitas lebih dari cukup," katanya.

Seperti diketahui, aksi retaliasi tarif impor antara AS dan China berlanjut meski keduanya telah bertemu untuk merundingkan kebijakan dagang masing-masing belum lama ini.

Pada Senin (18/6/2018), Presiden AS Donald Trump mengumumkan akan menerapkan tarif impor sebesar 10% atas barang-barang China yang bernilai US$200 miliar, sebagai balasan atas keputusan China menaikkan tarif impor atas produk AS.

Pada Jumat (15/6/2018), Trump juga mengungkapkan akan melanjutkan tarif sebesar 25% atas produk China senilai US$50 miliar. Sebagai balasan, China bakal menerapkan tarif tambahan sebesar 25% atas 659 produk AS yang bernilai US$50 miliar, salah satunya kacang kedelai.

 Sedangkan untuk penetrasi pasar Amerika, katanya, pihaknya masih mencoba menjajaki pasar tersebut.

 "Menang tidak banyak, tetapi sejauh ada peluang ke sana, pasti akan dilakukan oleh teman-teman," imbuhnya.

 Berdasarkan catatan Bisnis.com, IISIA memprediksikan industri baja masih bisa tumbuh 7% pada tahun ini. 

 Adapun, sepanjang tahun lalu, permintaan baja domestik berada di kisaran 13,5 juta ton dan diperkirakan menembus 14,5 juta ton pada 2018.

Tag : perang dagang AS vs China
Editor : Wike Dita Herlinda

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top