Bercanda Soal Bom di Pesawat? Mikir Dulu!

Kementerian Perhubungan meminta masyarakat untuk berpikir ulang jika ingin bercanda terkait dengan bom di wilayah penerbangan.
Rio Sandy Pradana | 12 Juni 2018 03:26 WIB
Ilustrasi anggota Tim Gegana Kepolisian tengah betugas menjinakkan bom. - Antara

Bisnis.com, JAKARTA – Kementerian Perhubungan meminta masyarakat untuk berpikir ulang jika ingin bercanda soal bom di wilayah penerbangan.

Dirjen Perhubungan Udara Kemenhub Agus Santoso mengatakan dampak dari candaan bom yang dilakukan oleh seseorang di penerbangan bisa sangat serius. Hal ini karena candaan soal bom tersebut bisa dikategorikan sebagai ancaman bom, bahkan terorisme.

"Mari kita berpikir ulang sebelum melakukan candaan bom. Tidak hanya di pesawat, tapi juga semua aspek penerbangan seperti bandara dan lainnya," kata Agus dalam keterangan resmi, Selasa (12/6/2018).

Menurutnya, candaan bom (bomb joke) bisa dikategorikan sebagai ancaman bom dan harus ditangani serius dengan waktu yang tidak singkat dan biaya yang tidak murah.

Langkah-langkah penanganan terhadap ancaman bom dalam pesawat udara yang masih berada di darat (bandara), yang pertama semua penumpang dan bagasi dalam pesawat diturunkan.

Kemudian setiap penumpang dan bagasi dilakukan pemeriksaan keamanan ulang. Selanjutnya dilakukan penyisiran keamanan pesawat udara (aircraft security search).

Pembuktian ancaman bom tersebut dipastikan memakan waktu lama dan merugikan baik bagi penumpang lain maupun maskapainya. Bahkan, Indonesia bisa dianggap tidak aman bagi dunia internasional jika keadaan tersebut terus terjadi.

Dampak adanya ancaman bom tersebut adalah jadwal penerbangan tertunda, jadwal penerbangan pada rute lain terganggu, risiko adanya kerusakan pada bagian pesawat, risiko adanya penumpang yang terluka, kerugian biaya operasional maskapai, dan membuat suasana gaduh di bandara.

"Coba bayangkan bila kita menjadi salah penumpang yang kena dampak tersebut, tentu akan jengkel, marah dan sebagainya. Karena jadwal yang sudah kita susun jadi berantakan karena pesawatnya delay dan lainnya," ujarnya.

Tag : pesawat
Editor : M. Syahran W. Lubis

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top