Tekan Kerugian, Pabrikan Makanan dan Minuman Terus Otak-Atik Strategi

Pelaku industri makanan dan minuman berupaya melakukan beberapa langkah untuk meningkatkan efisiensi untuk mempertahankan margin. Apalagi, saat ini dolar Amerika Serikat tengah menguat.
Annisa Sulistyo Rini | 11 Juni 2018 18:23 WIB
Adhi S. Lukman, Ketua Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (Gapmmi). - Antara

Bisnis.com, JAKARTA--Pelaku industri makanan dan minuman berupaya melakukan beberapa langkah untuk meningkatkan efisiensi untuk mempertahankan margin. Apalagi, saat ini dolar Amerika Serikat tengah menguat. 

Adhi S Lukman, Ketua Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Seluruh Indonesia (Gapmmi), mengatakan beberapa anggota asosiasi mengeluhkan margin keuntungan yang terus menurun. Di sisi lain, setiap tahun biaya tenaga kerja terus meningkat sekitar 8%--9%.

"Efisiensi yang dilakukan salah satunya otomatisasi. Kami juga efisiensi di logistik, memotong mata rantai," ujarnya di Jakarta beberapa waktu lalu.

Dia menjelaskan banyak pelaku industri mamin memotong rantai distribusi dengan menyalurkan produk dari pabrik langsung ke pasar ritel, tidak melalui distributor ataupun pasar grosir. Selain itu, pengusaha mamin juga melakukan efisiensi di sisi energi dengan mengganti sumber energi yang lebih murah.

Menurutnya, kenaikan harga setelah Lebaran merupakan pilihan terakhir bagi produsen mamin dalam menghadapi penguatan dolar AS dan mempertahankan margin. "Mudah-mudahan enggak naik terus ya karena kalau naik harga, 2--3 bulan pertama pasti penjualan turun, baru nanti stabil dan naik lagi," katanya.

Lebih jauh, Adhi menyatakan pertumbuhan produksi industri mamin tahun ini diproyeksikan sekitar 8%--9%. Sepanjang tahun lalu, industri mamin tumbuh sebesar 9,23% secara tahunan.

Sebelumnya, Adhi menuturkan permintaan produk makanan dan minuman masih baik hingga Mei 2018 karena kebutuhan menjelang Lebaran meningkat. 

Pada bulan Ramadan dan Lebaran, Adhi memperkirakan permintaan masyarakat terhadap produk mamin meningkat 20% dibandingkan bulan-bulan biasa. Namun, untuk produk tertentu, seperti sirup, biskuit, kolang kaling dan nata de coco, bisa naik 100% permintaannya.

Dia berharap pemerintah memberikan stimulus agar konsumsi masyarakat kembali terangkat melalui program bantuan dana langsung, dana desa, dan percepatan pemberian gaji ketiga belas. Dengan demikian permintaan yang menguat ini akan berlanjut hingga setelah Lebaran.

“Itu sebagai pemicu, kalau pemerintah mengucurkan itu, masyarakat juga confident untuk spending,” katanya.

Adapun, sepanjang kuartal I/2018 industri makanan menjadi penyumbang utama ekspor industri pengolahan senilai US$7,42 miliar, disusul industri logam dasar senilai US$3,68 miliar, dan industri bahan kimia dan barang dari bahan kimia senilai US$3,25 miliar. 

Produk makanan olahan yang banyak diekspor antara lain produk olahan kopi, olahan teh, olahan kakao, biskuit, dan permen dengan negara tujuan utama seperti Amerika Serikat, Jepang, dan negara kawasan Timur Tengah. 

Tag : makanan
Editor : Ratna Ariyanti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top