Pemerintah Minta Peritel Tetap Jaga Harga Saat Libur Lebaran

Kenaikan volume belanja masyarakat baik sandang maupun pangan diharapkan tidak berdampak pada peningkatan harga jual komoditas menjelang Idulfitri.
Rayful Mudassir | 11 Juni 2018 17:04 WIB
Bisnis.com, JAKARTA - Kenaikan volume belanja masyarakat baik sandang maupun pangan diharapkan tidak berdampak pada peningkatan harga jual komoditas menjelang Idulfitri. 
 
Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Kementerian Perdagangan Tjahya Widayanti menegaskan tidak ada alasan bagi pedagang termasuk peritel untuk menjual komoditasnya dengan harga tinggi. Khusus pangan, stok yang disediakan pemerintah diklaim telah mencukupi. 
 
"Tidak ada alasan menaikkan harga karena stok cukup. Meskipun pembelian barang meningkat, akan tetapi ritel harus tetap menggunkan harga normal," kata Tjahya kepada Bisnis, Senin (11/6/2018).
 
Menurutnya jauh-jauh hari sebelum memasuki Ramadan, pemerintah sudah menjalin komunikasi dengan pelaku usaha baik himpunan maupun asosiasi ritel dan pusat perbelanjaan. Pemerintah sudah mewanti-wanti pelaku usaha agar tetap menjual barang sesuai ketentuan normal. 
 
Sementara Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Retail Indonesia (Aprindo) Roy Nicholas Mandey mengemukkan hingga menjelang lebaran, stok barang saat ini di seluruh ritel terpenuhi dengan baik. Anggota Aprindo diakui telah mulai menambah stok di pusat distribusi masing-masing untuk jangka waktu enam pekan ke depan dimulai sejak awal Juni. 
 
"Semua produk dipastikan tersedia di seluruh toko ritel modern Indonesia," katanya.
 
Di samping itu, Aprindo menargetkan pertumbuhan 15% - 20% penjualan ritel selama puasa dan lebaran dibanding tahun sebelumnya. Namun sayangnya, tidak disebutkan berapa nilai peningkatan penjualan dari sektor tersebut. 
 
Pihaknya optimistis target tersebut akan tercapai. Setidaknya hal ini disebabkan kebijakan pemerintah untuk menggelontorkan Tunjangan Hari Raya dan Gaji 13 bagi seluruh PNS dan pensiunan yang mencapai Rp35,76 triliun. Kebijakan ini diharapkan turut mendongkrak daya beli masyarakat.
 
Dari total tersebut, Rp17,88 triliun diantaranya secara tersirat diberikan pemerintah untuk berbelanja kebutuhan menjelang lebaran. Sementara gaji ke 13 lebih diperuntukan kepada biaya pendidikan. Pasalnya gaji ke 13 baru diberikan pada 1 juli, saat tahun ajaran baru dimulai. 
 
"Biasanya komoditas pangan lebih banyak dikonsumsi di atas sandang dengan selisih mencapai 3%-4%," katanya. 
 
Tag : ritel modern
Editor : Wike Dita Herlinda

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top