OJEK ONLINE: Grab Fokus Berantas Order Fiktif

Perusahaan transportasi berbasis daring Grab fokus memberantas tindak kecurangan berupa order fiktif yang dilakukan mitranya
Ilham Budhiman | 08 Juni 2018 10:34 WIB
Logo angkutan online Grab - Reuters/Edgar Su

Bisnis.com, JAKARTA - Perusahaan transportasi berbasis daring Grab fokus memberantas tindak kecurangan berupa order fiktif yang dilakukan mitranya.

Survei terbaru Institute for Development of Economics and Finance (Indef) menyebut sebanyak 28% mitra Grab melakukan order fiktif untuk mengeruk keuntungan dengan menggunakan GPS palsu.

Head of Public Affair Grab Indonesia Tri Sukma Anreianno mengatakan perilaku menyimpang ini mengakibatkan banyaknya kerugian pemasukan baik dari perusahaan, mitra pengemudi, investor, hingga ekonomi digital Indonesia.

"Saya tidak tahu persis angka pastinya, karena masih dalam proses. Namun, dampaknya luas dan memiliki potensi kerugian hingga jutaan dolar," katanya, Kamis (7/6/2018).

Proses yang dimaksud berupa penyelidikan dan penyidikan dari pihak kepolisian untuk mengungkap sindikat besar terhadap praktik curang ini. Menurutnya ada 10 lebih sindikat yang sudah dalam proses hukum.

Proses yang dimaksud berupa penyelidikan dan penyidikan dari pihak kepolisian untuk mengungkap sindikat besar terhadap praktik curang ini. Menurutnya ada 10 lebih sindikat yang sudah dalam proses hukum.

"Dari segi angka kerugian seluruhnya memang belum dikeluarkan. Dari beberapa kasus sindikat besar masih dalam proses di pengadilan, setelah selesai bisa dikeluarkan angka pasti kerugiannya," ujarnya.

Sejauh ini pihaknya mengaku sudah melakukan antisipasi agar kecurangan tersebut bisa diredam, salah satu upayanya adalah dengan pengembangan aplikasi super canggih dan menerapkan kampanye gerakan 'lawan opik' [order fiktif].

"Karena ini isu yang paling serius yang perlu ditangani. Sehingga kita juga harus berinvestasi di sana untuk membangun sebuah sistem yang bisa menjaga atau risiko kecurangan seperti order fiktif ini," ungkapnya.

Dengan pengembangan aplikasi canggih ini, lanjutnya, Grab mengklaim bisa meminimalisir penurunan kecurangan hingga 80% dari para mitranya tersebut.

"Tahun lalu kita lakukan dan hasilnya memang mengejutkan. Kasus kecurangan seperti ini di Grab turun sampai 80% dalam 12 bulan terakhir," katanya.

Di samping itu, Grab juga akan memberikan apresiasi kepada konsumen ataupun mitra yang melaporkan kecurangan atau dikenal dengan istilah whistleblower.

Pengamat transportasi Achmad Izzul Waro menyatakan maraknya aksi kecurangan ini salah satunya disebabkan oleh anggapan mitra pengemudi yang merasa yakin tidak akan terdeteksi oleh sistem.

Sementara Direktur Program Indef Berly Martawardaya menyebut perusahaan ride-hailing memiliki tanggung jawab yang paling besar untuk memberlakukan sistem keamanan yang lebih ketat untuk melawan tindakan curang seperti ini.

 

Tag : Grab
Editor : Linda Teti Silitonga

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top