Rencana Koreksi HET Beras Kualitas Premium Ditinjau Kembali

Kementerian Perdagangan akan meninjau kembali rencana menurunkan harga eceran tertinggi (HET) beras premium, setelah diam-diam hendak menerapkan harga baru senilai Rp11.900/kg per 1 Agustus 2018 dan menuai kritik tajam dari berbagai pihak.
M. Richard | 07 Juni 2018 14:01 WIB
Pekerja memindahkan karung berisi beras di Pasar Induk Beras Cipinang, Jakarta Timur, Jumat (19/1). - ANTARA/Sigid Kurniawan

Bisnis.com, JAKARTA — Kementerian Perdagangan akan meninjau kembali rencana menurunkan harga eceran tertinggi (HET) beras premium, setelah diam-diam hendak menerapkan harga baru senilai Rp11.900/kg per 1 Agustus 2018 dan menuai kritik tajam dari berbagai pihak.

 “[Rencana koreksi HET beras premium] Itu masih dalam pembahasan, kemungkinan tidak terjadi,” kata Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri (PDN) Kemendag Tjahya Widayanti ketika dimintai konfirmasi oleh Bisnis, Rabu (6/5/2018).

 Sebagaimana diberitakan sebelumnya, Menteri Perdagangan diam-diam melayangkan surat ke Menteri Koordinator Bidang Perekonomian untuk meminta persetujuan revisi HET beras medium dan premium. (Bisnis, edisi 6/6)

 Beras medium rencananya dikoreksi dari Rp9.450/kg menjadi Rp8.900/kg, sedangkan beras premium direvisi dari Rp12.800/kg menjadi Rp11.900/kg. Meskipun pada akhirnya revisi HET beras medium ditunda, koreksi HET untuk segmen premium masih dalam pembahasan.

 Tjahya mengungkapkan otoritas perdagangan terus berupaya membuat harga beras premium menjadi lebih terjangkau. “Kami minta agar konsumen tidak terbebani, jadi harus ada satu patokan HET [beras premium yang lebih rendah],” tuturnya.

 Menurut pemantauan Ditjen PDN, rerata harga beras (baik medium maupun premium) sudah turun. Sehingga, menurut Tjahya, penurunan HET beras premium merupakan hal yang wajar.

 Pakar pangan Kudhori mengatakan intervensi harga acuan beras segmen premium akan sangat merugikan petani dan penggiling padi kecil, yang hanya mampu memproduksi beras kualitas medium.

 “Kalau HET beras premium turun, hanya penggiling besar yang mampu memproduksinya dan untung,” tegasnya. Dia menambahkan, seharusnya pemerintah tidak perlu mengintervensi bahan pangan yang ditujukan untuk segmen kelas atas.

 Sekadar catatan, yang disebut sebagai beras premium adalah yang memenuhi kualifikasi derajat sosoh minimal 95%, kadar air maksimal 14%, dan butir patah maksimal 15%. Beras ini memiliki segmen pasar yang tersegmentasi, yaitu kelas masyarakat yang bersedia membayar lebih untuk setiap nilai tambahnya.

 Sementara itu, Direktur Center of Reform on Economics (CORE) Mohammad Faisal berpendapat jika HET beras premium dikoreksi, daya beli konsumen kelas bawah akan semakin tertekan. Padahal, populasi kelas bawah mencapai 40% dari jumlah total warga RI.

 “Sebaiknya, [harga beras] premium dilepas saja sesuai mekanisme pasar, karena konsumen kelas atas daya belinya tinggi,” ujarnya.

 Jadi, dia berharap pemerintah dapat berhati-hati sebelum mengambil langkah agar kebijakan yang niat awalnya ditujukan untuk mendongkrak konsumsi tidak menjadi kontraproduktif.

 Sebelumnya, Guru Besar Institut Pertanian Bogor (IPB) Dwi Andreas Santoso mengatakan penurunan HET beras premium berisiko membuat harga beras medium tak terkendali. Sebab, spesifikasi beras medium yang hampir mendekati segmen premium akan mendorong pedagang penggilingan besar mengonversi beras medium menjadi kualitas premium.

 Akibatnya, stok beras medium di pasar menjadi semakin langka dan membuat harga beras segmen ini lebih mahal dibandingkan harga beras premium. “Itu bukan hal yang tidak mungkin. Di beberapa tempat, kita sudah lihat harga beras medium di toko kecil lebih mahal dibandingkan dengan beras premium di supermarket.”

Tag : Harga Beras
Editor : Wike Dita Herlinda

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top