Rantai Pasok Kini Rawan Insiden Siber

Rantai pasok kini menjadi titik rawan insiden siber berdasarkan laporan dari Dimension Data, perusahaan jasa di bidang teknologi.
Duwi Setiya Ariyanti | 07 Juni 2018 03:38 WIB
Ilustrasi - youtube

Bisnis.com, JAKARTA--Rantai pasok kini menjadi titik rawan insiden siber berdasarkan laporan dari Dimension Data, perusahaan jasa di bidang teknologi.

Country General Manager Dimension Data Hendra Lesmana mengatakan berdasarkan laporan terbarunya, rantai pasok menjadi sasaran serangan siber. Pada 2017, tercatat 20% serangan siber mengarah ke rantai pasok.

Secara global, sektor bisnis dan layanan profesional seperti lembaga bantuan hukum, lembaga audit independen dan lembaga konsultan publik mendapatkan serangan ransomware sebesar 10%. Kemudian, sektor teknologi sebesar 19% dan keuangan sebesar 26%.

Sisi rantai pasok menjadi sasaran ransomware karena terdapat pertukaran informasi yang bisa dimanfaatkan untuk melakukan pencurian data. Data yang dicuri bisa berupa data konsumen, rekaman transaksi atau tentang substansi masalah tertentu bila dikaitkan pada sektor bisnis dan layanan profesional.

"Business and professional services seperti lawyer, audit, bantuan hukum itu mereka diserang untuk mencuri informasi yang ada di situ. Demikian juga teknologi untuk mencuri intelektual properti. E-commerce misalnya karena search lebih gampang dan akurat. Makanya kenapa sektor teknologi naik signifikan [insidennya]. Serangan targeted dan spesifik mungkin disembunyikan di belakang serangan ransomware," ujarnya dalam jumpa pers di Jakarta, Rabu (6/6/2018).

Secara total, sepanjang 2017 terjadi 150 juta serangan. Dengan angka ini, setidaknya terjadi 3 juta serangan per minggu atau sekita 50.000 serangan per hari di seluruh negara.

Khusus di Asia Pasifik, sektor yang paling rentan merupakan keuangan dengan porsi 26%. Adapun, negara di Asia Pasifik umumnya mendapat serangan dari Australia. Kendati asal serangan dari Australia, dia menyebut inisiatif untuk melakukan serangan bisa datang dari negara mana saja.

Asal serangan, katanya, biasanya mencerminkan negara yang memiliki sumber daya untuk melakukan serangan. Setidaknya, 66% serangan sektor finansial yang terjadi di Asia Pasifik berasal dari Australia. Sementara itu, secara global, serangan siber berasal dari Amerika Serikat dengan porsi 31% dan China sebesar 19%.

"Di Asia Pasifik, serangan di sektor finansial berasal dari Australia, 66%," katanya.

Menurutnya, kerentanan terhadap serangan bisa terjadi karena berbagai hal. Penyebabnya, teknologi yang digunakan merupakan edisi lama. Porsi yang paling besar menyumbang terjadinya insiden yakni karena minimnya pengetahuan individu.

Penggunaan teknologi lama, antivirus yang belum diperbarui, sistem autentikasi yang rentan dan kesadaran untuk melakukan transaksi yang aman berkontribusi terhadap terjadinya serangan siber.

"Pengetahuan user yang bisa membedakan selamat atau enggak pada saat serangan siber," katanya.

Tag : serangan siber
Editor : Fajar Sidik

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top