Minyak Nabati Asal Eropa Diduga Lakukan Dumping

Minyak nabati kemasan atau bermerek asal Eropa diduga melakukan dumping di Indonesia sehingga mengakibatkan gangguan pada industri dalam negeri.
Newswire | 27 Mei 2018 17:26 WIB
Ilustrasi - tiba group

Bisnis.com, JAKARTA – Minyak nabati kemasan atau bermerek asal Eropa diduga melakukan dumping di Indonesia sehingga mengakibatkan gangguan pada industri dalam negeri.

Direktur Eksekutif Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI) Sahat Sinaga menjelaskan, sebagai pihak yang dirugikan, pihaknya akan melakukan pemeriksaan volume impor untuk minyak nabati secara umum.

"Pasalnya industri Indonesia tidak membedakan antara minyak berbasis biji yang berbeda tersebut, baik dari sudut pandang perdagangan atau lingkungan,” ungkapnya.

Pemeriksaan juga sedang dilakukan, apakah minyak nabati tersebut disubsidi. Jika ada cukup bukti, pihaknya akan mengajukan keluhan kepada Komite Anti Dumping Indonesia (KADI) terhadap semua impor dari Eropa.

Menurutnya, cara ini dianggap fair karena ketika Uni Eropa menuding Indonesia, langkah-langkah tersebut juga diterapkan di seluruh Uni Eropa.

Sahat menegaskan indikasi awal menunjukkan adanya dumping terhadap minyak nabati berbasis rapeseed, minyak zaitun, minyak bunga matahari dan minyak jagung. Indikasi tersebut sangat beralasan mengingat minyak berbasis biji asal Uni Eropa biaya produksinya sangat tinggi.

Tingginya biaya produksi tersebut disebabkan oleh produktivitas minyak nabati asal Eropa jauh lebih rendah jika dibandingkan dengan minyak kelapa sawit. Oleh karena itu, harga minyak nabati asal Eropa dipastikan jauh lebih mahal jika dibandingkan dengan minyak nabati berbasis sawit.

Direktur Eksekutif Council Palm Oil Producing Countries (CPOPC) Mahendra Siregar mengatakan bahwa asosiasi perusahaan seperti GIMNI memang seharusnya membela kepentingan industri dan perusahaan Indonesia dari kemungkinan terjadinya dumping dan perlakuan tidak fair dari luar negeri di pasar Indonesia.

“Hal demikian terjadi di seluruh dunia dengan peraturan dan prosedur yang sudah baku secara internasional sehingga harus dihormati sampai tuntas,” ujarnya.

Pengamat ekonomi dari Indef Bhima Yudhistira mengatakan, problem diskriminasi perdagangan minyak nabati sudah ada dari dahulu. Solusinya, diplomasi dagang harus dioptimalkan.

"Kalau perlu gugat ke WTO jika pihak EU tetap bersikeras melakukan diskriminasi produk CPO."

Cara lainnya adalah melakukan diversifikasi pasar ekspor ke negara tujuan lain, seperti Afrika, Rusia dan Amerika Latin.

Tag : minyak sawit
Editor : Bambang Supriyanto

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top