Biodiesel Bantu Tekan Impor Solar

Harga minyak mentah dunia terus menunjukkan tren kenaikan hingga menembus angka US$72 per barel pada Mei 2018. Tren kenaikan harga minyak pun turut diikuti oleh melemahnya nilai tukar rupiah yang menembus angka Rp14.000 per dolar AS. Imbasnya, biaya impor minyak akan naik.
Denis Riantiza Meilanova | 27 Mei 2018 20:07 WIB
Ilustrasi biodiesel - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA - Harga minyak mentah dunia terus menunjukkan tren kenaikan hingga menembus angka US$72 per barel pada Mei 2018. Tren kenaikan harga minyak pun turut diikuti oleh melemahnya nilai tukar rupiah yang menembus angka Rp14.000 per dolar AS. Imbasnya, biaya impor minyak akan naik.

Kondisi tersebut semestinya bisa menjadi momentum untuk mengurangi ketergantungan impor minyak yang masih tinggi. Salah satu langkah yang bisa dilakukan untuk mengurangi impor minyak adalah mendorong pemanfaatan biodiesel.

Pemerintah saat ini tengah berupaya meningkatkan pemanfaatan biodiesel dengan menerapkan program mandatori campuran solar dengan biodiesel 20% (B20). Mandatori biodiesel tak lagi hanya untuk sektor public service obligation (PSO) dan pembangkit listrik PLN, namun juga akan diperluas untuk kereta api dan sektor non-PSO.

Sejak implementasi program B20 pada 2015 hingga April 2018, tercatat pemanfaatan B20 mampu mengurangi impor minyak jenis Solar hingga 5,88 juta kilo liter.

“Penyaluran biodiesel yang didukung dana sawit sebesar 5,88 juta kilo liter menghasilkan penghematan devisa negara sebesar Rp30 triliun,” ujar Direktur Penyaluran Dana Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) Edi Wibowo.

Tahun ini pemerintah mulai menerapkan mandatori biodiesel pada kereta api secara bertahap yang dimulai dengan penggunaan B5. Kemudian juga akan memperluas program mandatori biodiesel ke sektor non PSO yang dimulai dari sektor industri tambang dengan penggunaan B15.

Adanya perluasan tersebut diperkirakan konsumsi biodiesel tahun ini akan meningkat sekitar 3,2 juta kilo liter hingga 3,5 juta kilo liter. Artinya, jika terealisasi akan ada potensi pengurangan impor minyak jenis Solar hingga 3,5 juta kilo liter tahun ini.

Edi mengatakan program mandatori biodiesel turut berkontribusi mengurangi impor Solar paling tidak 3 juta kilo liter per tahunnya. Sehingga pemerintah bisa menghemat devisa negara hingga Rp14,83 triliun per tahun karena tidak perlu lagi mengimpor bahan bakar jenis Solar sekitar 3 juta kilo liter.

“Penghematan dana ini bisa digunakan untuk perluasan berbagai macam program pemerintah termasuk penanggulangan kemiskinan, pendidikan, dan kesehatan,” katanya.

Saat ini, harga indeks pasar biodiesel memang masih lebih tinggi dibandingkan harga indeks pasar bahan bakar jenis Solar. Namun demikian, untuk mengatasi selisih harga tersebut terdapat insentif penyaluran biodiesel. Sumber dana yang dikelola BPDPKS tersebut bukan berasal dari APBN, melainkan dipungut dari perusahaan yang melakukan ekspor komoditas kelapa sawit.

Dengan adanya skema insentif tersebut, penghematan APBN untuk implementasi kebijakan mandatori biodiesel dari 2015-2017 mencapai Rp21 triliun.

Tak hanya berkontribusi dalam mengurangi impor Solar, program mandatori biodiesel juga dapat menurunkan emisi gas rumah kaca hingga 8,79 juta ton CO2 sampai dengan April 2018.

Terkait dengan kenaikan harga minyak dunia dan pelemahan nilai tukar rupiah, dengan impor minyak yang saat ini rata-rata mencapai 800.000 barel per hari dan harga minyak menyentuh US$72 per barel, potensi pengeluaran negara dapat mencapai sekitar US$58 juta per harinya.

Menurut Data Badan Pusat Statistik nilai impor minyak dan gas per April 2018 mencapai US$2,32 miliar atau naik 3,62% dibandingkan Maret 2018 serta naik 40,89% dibandingkan April 2017.

Tentunya pemanfaatan biodiesel akan mampu membantu menekan nilai impor tersebut. Semakin luas pemanfaatan biodiesel maka penghematan biaya impor minyak akan semakin besar.

Tag : biodiesel
Editor : Sepudin Zuhri

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top