Butuh Lahan Luas Bangun Rumah Lansia

Konsultan properti menilai butuh lahan yang luas untuk memenuhi kebutuhan pembangunan senior living atau rumah lansia sebagai rumah tapak.
Gloria Fransisca Katharina Lawi | 25 Mei 2018 01:27 WIB
Ilustrasi - Futuretimeline.net

Bisnis.com, JAKARTA -- Konsultan properti menilai butuh lahan yang luas untuk memenuhi kebutuhan pembangunan senior living atau rumah lansia sebagai rumah tapak.

Head of Marketing Rumah.com, Ike Hamdan mengatakan saat ini kebutuhan untuk rumah lansia sangat berbeda dengan kebutuhan generasi millenials. Pasalnya, jika millenials cenderung memilih rumah vertikal, hal sebaliknya justru terjadi pada rumah lansia yang membutuhkan rumah tapak atau landed house.

"Ada report terbaru mulai berkembang, developer besar mulai memikirkan senior living, itu ada kebutuhan desain berbeda. Misalnya senior living dengan usia, tidak terlalu bertingkat, jadi mereka landed," ujar Ike dikutip Bisnis, Kamis (24/5/2018).

Kata Ike, hal ini berbeda dari generasi millennials membutuhkan hunian yang fungsional. Dia beralasan, dengan keterbatasan lahan yang ada serta tren yang dinamis, millennials cenderung melihat desain rumah yang sederhana.

“Sukanya yang bersifat minimalis, dalam hal desain pemeliharaannya mudah, sebab mereka tidak punya banyak waktu untuk membersihkan. Kalau misalnya zaman dulu, suka pakai ukiran, millennials belum tentu suka karena membutuhkan waktu ekstra,” jelas Ike.

Sebelumnya, Asia Managing Director of Valuation and Advisory Services at Colliers International, David Faulkner mengatakan dalam laporan Senior Housing Outlook 2018 mengatakan Asia sedang menghadapi krisis penuaan generasi yang ditandai dengan meningkatnya harapan hidup dan angka kelahiran yang rendah di beberapa negara.

“Akibat dari krisis ini, muncul peningkatan kebutuhan untuk perumahan senior atau lansia di Asia,” ujar David dikutip.

Populasi masyarakat senior di Asia yang berusia 65 tahun ke atas, diprediksi akan meningkat hampir tiga kali lipat pada 2050 dengan total 945 juta jiwa. Sedangkan jumlah orang yang berusia 75 tahun ke atas akan melonjak dari 137 juta jiwa menjadi 437 juta jiwa.

Di Jepang, populasi lansia diprediksi akan terdiri dari 36,4% dari total populasi pada 2050. Kemudian diikuti oleh negara-negara asia lainnya seperti, Korea Selatan 35,3%, Hong Kong 33,9%, Singapura 33,6%, dan Thailand 29% dari total populasi yang ada.

David mengatakan budaya masyarakat Asia seperti tradisi anak merawat orangtua dan menyewa asisten rumah tangga seperti pengasuh khusus menyebabkan sedikit permintaan terhadap fasilitas hunian berkebutuhan khusus bagi lansia.

Namun, norma ini mungkin berubah dengan adanya tren migrasi di mana banyak anak yang merantau meninggalkan orang tua mereka di negara asalnya, sehingga permintaan untuk perumahan lanjutan bagi lansia cenderung tumbuh.

Selain itu, seiring dengan penuaan generasi di Asia dan pada saat yang sama tercapainya kehidupan yang makmur, David juga menambahkan pemerintah dan pengembang harus mulai membuka mata terhadap opsi perumahan senior terutama untuk kelas menengah, segmen yang berkembang cepat di sebagian besar wilayah Asia.

Tag : bisnis properti
Editor : Fajar Sidik

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top