Hadapi Gejolak Rupiah, PLN Kaji Berbagai Skenario

Tidak adanya kenaikan tarif listrik di tengah kenaikan harga sejumlah komoditas dan pelemahan nilai kurs rupiah membuat PT PLN (Persero) terus memutar otak.
Denis Riantiza Meilanova | 24 Mei 2018 20:06 WIB
Direktur Utama PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) Sofyan Basyir bersama direktur lainnya, di sela-sela penyampaian laporan keuangan PLN 2017, di Jakarta, Rabu (28/3/2018). - JIBI/Nurul Hidayat

Bisnis.com, JAKARTA - Tidak adanya kenaikan tarif listrik di tengah kenaikan harga sejumlah komoditas dan pelemahan nilai kurs rupiah membuat PT PLN (Persero) terus memutar otak.

Mengantisipasi kondisi tersebut, Direktur Utama PLN Sofyan Basir mengungkapkan pihaknya tengah melakukan uji skenario kekuatan atau stress test untuk mengukur ketahanan perusahaan.

“Dalam minggu-minggu ini, kami sudah persiapkan simulasi stress test. Kami coba dolar naik segini, ini begini, ada beberapa alternatif mana yang paling buruk kami ambil 6 bulan ini,” ujar Sofyan, Rabu malam (23/5/2018).

Dia mengatakan dengan melakukan uji skenario tersebut nantinya dapat membantu perseroan menemukan strategi yang tepat untuk menjaga kesehatan keuangan perseroan. “Konkritnya apa yang mau diturunin, apa yang mau diefisiensi, dan apa yang mau diminta ke negara, supaya tarif listrik tidak naik.”

Di sisi lain, perseroan juga telah menyiapkan sejumlah strategi efisiensi dari segala sisi. Mulai dari memperbaiki jaringan, menjaga kualitas batu bara, melakukan zonasi transportasi batu bara, menekan angka susut jaringan, dan melakukan penagihan piutang-piutang lama.

Sofyan pun meyakini bahwa apapun persoalan dan gejolak yang terjadi, PLN akan tetap bisa bertahan. Dia menjamin pemerintah tidak akan lepas tangan begitu saja terhadap PLN mengingat peranan penting PLN dalam menyediakan listrik.

“Nanti kesulitannya kami diskusikan ke pemerintah. Negara pasti tanggung jawab ke PLN karena listrik ini urat nadi kehidupan,” katanya.

Direktur Keuangan PLN Sarwono Sudarto menambahkan gejolak kurs merupakan persoalan yang sudah biasa dihadapi perseroan. Dia pun optimistis perseroan dapat bertahan tanpa adanya kenaikan tarif listrik.

“Tahun 2013, 2015, kurs naik turun kalau kita ikuti malah pusing sendiri. PLN bisa survive, tahun lalu saja kami bisa untung,” kata Sarwono.

Sebelumnya, Kepala Satuan Komunikasi Korporat PLN I Made Suprapteka mengatakan dengan harga ICP yang merangkak naik dikisaran US$67,43 per barel dan kurs rupiah yang terus melemah hingga Rp14.000, tarif listrik adjusment seharusnya naik. Namun, pihaknya dan pemerintah telah berkomitmen dan berupaya agar tarif listrik tetap terjaga dan tidak naik hingga 2019.

Made pun mengakui kondisi tersebut menyebabkan kinerja keuangan perseroan pada kuartal I/2018 sedikit tertekan. Namun sayang, dia enggan menyebutkan lebih detil kinerja keuangan pada triwulan pertama tersebut.

“Kuartal I/2018 kurang bagus. Penerapan hasil negosiasi belum diimplementasikan. Tapi nanti akan ada recovery,” kata Made.

Dia berujar pada kuartal pertama tahun ini memang tidak terlalu memberikan profit bagi perseroan. Pasalnya belanja investasi program 35.000 megawatt (MW) juga belum memberikan hasil.

“Nanti 2020-2022 bagus. Kami tidak seperti kinerja perbankan yang stabil. Kami pas awal tidak untung. Saat kuartal pertama, kedua, kurang relevan mencerminkan kinerja perusahaan,” katanya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
nilai tukar rupiah

Editor : Sepudin Zuhri

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top