Serangan Siber Bikin Perusahaan Ragu Bertransformasi Digital

Perusahaan menghadapi risiko kerugian finansial yang signifikan, dampak buruk pada sisi kepuasan pelanggan, dan penurunan reputasi di pasar.
Dhiany Nadya Utami | 24 Mei 2018 20:45 WIB
Direktur Utama Microsoft Indonesia Haris Izmee (kiri), Dirjen APTIKA Kemenkominfo (kedua dari kiri) dan Managing Director Frost & Sullivan Malaysia dan SVP Frost & Sullivan Asia-Pacific Hazmi Yusof (ketiga dari kiri) dalam acara Industry Revolution 4.0 pada Kamis (24/5/208) - Microsoft Indonesia

Bisnis.com, JAKARTA — Serangan siber tak bisa lagi dianggap remeh. Bahkan, kekhawatiran akan insiden keamanan siber disebut dapat menghambat rencana transformasi digital.

Menurut Direktur Utama Microsoft Indonesia Haris Izmee dengan batasan-batasan TI yang semakin menghilang, penjahat siber kini menemukan sasaran baru untuk diserang. Ini membuat perusahaan menghadapi risiko kerugian finansial yang signifikan, dampak buruk pada sisi kepuasan pelanggan, dan penurunan reputasi di pasar.

“Berbagai perusahaan kini menyambut peluang-peluang yang ditawarkan oleh komputasi awan dan mobile untuk menjalin hubungan dengan pelanggan dan mengoptimalkan operasi perusahaan, mereka menghadapi risiko-risiko baru,” katanya dalam acara Industry Revolution 4.0 Through Trusted Hybrid Cloud, Kamis (24/5/2018).

Frost & Sullivan MD Malaysia and Asia-Pacific SVP Hazmi Yusof menyebut potensi kerugian akibat insiden keamanan siber di Indonesia diperkirakan mencapai lebih dari US$34,2 miliar atau sekitar Rp485 trilun.

“Ini seperti fenomena gunung es [iceberg], karena risiko yang tampak sering kali terlihat kecil padahal kenyataannya amat besar,” tambah Yusof.

Berdasarkan data ekonomi makro dan hasil analisis dari survei Frost & Sullivan, ada 3 model kerugian yang dapat terjadi karena serangan siber yakni model direct atau kerugian finansial yang berhubungan langsung dengan sebuah serangan keamanan; model indirect atau kerugian peluang bagi perusahaan seperti hubungan baik dengan pelanggan karena kehilangan reputasi; dan kerugian induced atau dampak serangan siber pada ekosistem dan ekonomi yang lebih luas seperti menurunnya jumlah pengeluaran pelanggan dan perusahaan.

Menurutnya, salah satu kerugian indirect dari insiden keamanan siber adalah berkurangnya kemampuan berbagai organisasi di Indonesia untuk memanfaatkan peluang-peluang yang ada di era ekonomi digital saat ini.

Studi yang berjudul Understanding the Cybersecurity Threat Landscape in Asia Pacific: Securing the Modern Enterprise in a Digital World  mengungkapkan sebanyak 61% responden menyatakan bahwa perusahaan mereka telah menunda upaya transformasi digital karena khawatir terhadap risiko-risiko siber.

“Sayang sekali karena di mana seharusnya para perusahaan berlomba-lomba beralih ke digital, langkahnya mesti terhambat oleh kekhawatiran akan keamanan siber,” tambah dia.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
serangan siber

Editor : Demis Rizky Gosta

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top