TOL LAUT: Indonesia Kekuarangan Tenaga Pandu Kapal

Indonesia Maritime Pilots Association memperkirakan Indonesia mengalami kekurangan tenaga pandu seiring dengan rencana pemerintah menggalakkan tol laut.
Juli Etha Ramaida Manalu | 16 Mei 2018 20:30 WIB
Ketua Indonesia maritime Pilots Association (INAMPA), Pasoroan Herman Harianja - Bisnis / Juli E.R. Manalu

Bisnis.com, MEDAN — Indonesia Maritime Pilot’s Association memperkirakan Indonesia mengalami kekurangan tenaga pandu seiring dengan rencana pemerintah menggalakkan tol laut.

Pasoroan Herman Harianja Ketua Indonesia Maritime Pilot’s Association (INAMPA), asosiasi yang meanungi para tenaga pemandu kapal (maritime pilot) menyebutkan, saat ini, Indonesia membutuhkan sedikitnya 200 orang tenaga untuk mengoperasikan kapal pandu .

“Setiap tahun, kurang lebih kita butuh 200 orang. Setiap ada perkembangan pelabuhan, apalagi sekarang mau ada pemanduan di Selat Malaka, ada lagi di ALKI (alur laut kepulauan Indonesia)1 Selat Sunda, akan semakin meningkat. Sekarang banyak BUP (badan usaha pelabuhan), banyak terminal khusus, itu membutuhkan,” papar Herman, Rabu (16/5/2018).

Menurutnya Indonesia belum bisa memenuhi kebutuhan tersebut. Dia mencontohkan, dalam pelatihan yang saat ini sedang dilaksanakan oleh pemerintah dengan melibatkan pihaknya, jumlah peserta yang mengikuti hanya sekitar 73 orang.

Dengan keadaan ini,  di beberapa tempat, para maritime pilot harus bekerja ekstra dengan shift berlebih. Padahal, hal ini berbahaya bagi mereka karena berpotensi menyebabkan kelelahan yang berujung pada kurang optimalnya hasil kerja.

Bahkan, dengan bekerja di luar batas jam kerja seorang maritime pilot berpotensi membahayakan sang pemandu juga kapal yang dipandu.

“Kadang anggota saya ini bekerjanya jarus tiga shift, itu harus bekerja over dosis, nah itu tidak boleh. Karena kalau dia fatigue itu nanti berbahaya pada keselamatan,” jelasnya.

Tag : pandu kapal
Editor : Martin Sihombing

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top