PT Garam Incar 20.000 Ton dari Ekspansi di Kupang

PT Garam (Persero) mengincar 20.000 ton dari produksi garam di Bipolo, Kupang, Nusa Tenggara Timur tahun ini. Jumlah itu akan menyumbang sekitar 5% produksi garam perseroan.
Sri Mas Sari | 15 Mei 2018 20:46 WIB
Ilustrasi - Antara/Zabur Karuru

Bisnis.com, JAKARTA - PT Garam (Persero) mengincar 20.000 ton dari produksi garam di Bipolo, Kupang, Nusa Tenggara Timur tahun ini. Jumlah itu akan menyumbang sekitar 5% produksi garam perseroan.

Direktur Utama PT Garam Budi Sasongko mengatakan tambak di Bipolo seluas 304 hektare tengah bersiap memasuki masa produksi meskipun saat ini kelembapan udara masih tinggi dan hujan sesekali masih turun di Kupang.

"Harapan saya Juni sudah kering penuh. Kami tahun ini minimal 20.000 ton dengan asumsi musim normal 5-6 bulan," katanya saat dihubungi, Selasa (15/5/2018).

Tahun lalu, perusahaan pelat merah itu hanya mampu memanen 3.000 ton dari lahan Bipolo. Anomali cuaca membuat musim kering hanya berlangsung 39 hari. Meskipun demikian, tutur Budi, kadar natrium klorida (NaCl) di Bipolo rata-rata mencapai 96,7%.

Tahun lalu, garam Bipolo dijual ke industri pengolahan garam di Surabaya. Sebagian dijual untuk memenuhi kebutuhan garam konsumsi di Kupang.

"Saya berharap ke depan bisa untuk industri aneka pangan," katanya.

PT Garam berencana melakukan ekspansi di Kupang. Namun, saat ini perseroan masih menunggu rekomendasi penerbitan hak guna usaha atas lahan 225 ha dari bupati Kupang.

BUMN itu juga sedang menunggu persetujuan dari Badan Pertanahan Nasional untuk mengolah tanah hak ulayat seluas 200 ha di dekat tambak saat ini. Seperti diketahui, tambak Bipolo eksisting merupakan tanah ulayat yang dikelola PT Garam dengan sistem bagi hasil dengan warga setempat.

PT Garam tahun ini menargetkan produksi garam 380.000 ton dari tambak sendiri setelah tahun lalu hanya mencapai 194.296 ton. Tambak milik perseroan di Madura seluas 5.020 ha saat ini juga tengah disiapkan untuk berproduksi.

Sebelumnya, Kemenko Maritim menargetkan dapat memenuhi kebutuhan garam industri aneka pangan sebanyak 500.000 ton pada 2021 dari ekspansi tambak ke Nusa Tenggara Timur seluas 30.000 hektare.

Tenaga Ahli Menko Maritim Hernando Wahyono mengatakan beberapa perusahaan yang akan membuka lahan garam di Flobamora kini sedang mengurus izin pembebasan lahan. Dia tak memungkiri beberapa perusahaan yang telah lama memegang hak guna usaha (HGU) masih melakukan sosialisasi kepada warga yang menduduki tanah.

Menko Maritim Luhut B. Pandjaitan mengatakan warga NTT akan diikutsertakan dalam swasembada garam. Mereka akan menjadi plasma perusahaan-perusahaan dengan andil produksi 30%.

"Itu keharusan kepada pengusaha-pengusaha besar dan pengusaha besar itu tanahnya kami yang urus, pemerintah yang urus," katanya.

Hernando menambahkan masa produksi garam di NTT mencapai 10 bulan atau dua kali musim tanam garam di Madura. Di Pulau Garam, panen biasanya hanya berlangsung Juli-November.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
garam

Editor : Bunga Citra Arum Nursyifani

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top