Milenial Pilih Travelling Dibanding Beli Rumah, Tren Properti Ikut Bergeser

Sekarang akhirnya ada co-living space, jadi mereka bisa kemana-mana. Jadi, kalaupun ada penurunan permintaan itu tidak benar, namun parameternya saja yang berubah.
Gloria Fransisca Katharina Lawi | 26 April 2018 17:39 WIB
Generasi milenial China. - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA – Para pengembang memprediksi karakteristik generasi milenial lebih banyak menghabiskan uang untuk travelling ketimbang berinvestasi properti.

Ishak Chandra, CEO Strategic Development & Services Sinar Mas Land menyatakan generasi milenial bukan tak tertarik untuk membeli properti. Pada dasarnya, milenial juga memahami pentingnya membeli properti. Namun, mereka menghabiskan sekitar 60% untuk transaksi lain di luar properti, misalnya membeli gadget, travelling, dan membuka bisnis start-up.

“Pertama, mereka melihat bahwa mindset tentang definisi sukses saja salah satunya kalau punya start-up, bukan kalau dibilang sukses, dan kalau married. Sekarang kalau ditanya punya saham, punya bisnis sendiri. Karena mereka punya mindset juga mau jalan spendingnya buat yang lain,” ungkap Ishak di Graha Niaga Thamrin, Kamis (26/4/2018).

Ishak menyebut kondisi ini berimbas terhadap perubahan permintaan dari generasi milenial adalah munculnya hunian vertikal berkonsep sharing room atau co-living. Adapun hunian ini mengintegrasikan kantor dengan hunian, namun ada beberapa ruangan yang menjadi milik bersama seperti kepemilikan dapur.

“Sekarang akhirnya ada co-living space, jadi mereka bisa kemana-mana. Jadi, kalaupun ada penurunan permintaan itu tidak benar, namun parameternya saja yang berubah,” jelas Ishak.

Ishak menegaskan pentingnya mengedukasi dan memberikan informasi tentang properti kepada milenial. Dia beralasan edukasi ini semakin cepat diberikan semakin baik mengingat kondisi harga properti saat ini lebih terjangkau ketimbang di masa yang akan datang.

“Intinya education, bahwa memiliki aset sarana investasi properti itu penting. Bagaimana mendidik itu bahwa kalau beli sekarang namun beli nanti itu akan lebih mahal. Tetapi kalau uang sudah cukup, harganya mulai naik,” terang Ishak.

Sebelumnya, Vivin Hartanto, Head of Advisory JLL Indonesia menyatakan saat ini bisnis properti memang tengah menghadapi perubahan gaya hidup dan model bisnis. Pasalnya, generasi yang muda yang masuk dalam golongan millennials ini menyukai hunian compact, apartemen, atau co-living. Perubahan permintaan inilah yang harus dicermati para pengembang.

“Dari sisi tempat tingggal, ada commuter, dekat tempat kerja, mereka harus biasa dengan public transportation dan fine environment, dan mereka harus ada refreshing dan membuat mereka lebih hidup,” papar Vivin.

Dia menyatakan generasi millennial memiliki kecenderungan sangat dinamis dan berimbas pada perubahan cepat pola transaksi dan permintaan pasar. Salah satunya adalah tumbuhnya tren properti di dekat stasiun untuk memudahkan akomodasi.

Selama ini, rumah vertikal atau apartemen memang sudah banyak muncul namun masih dominan permintaan rumah tapak. Pasalnya, rumah vertikal baru mendapat posisi sebagai subsitusi rumah tapak.

“Mereka mau rumah lebih dekat aktivitas konersial dan dekat dari terduga, kinerja rumah tapak tergantung spending time on traffic, atau spending on transportation,” sambung Vivin.

Kata Vivin, sudah mulai menjamur apartemen di arena TOD. Namun kalau dari perumahan masih berjarak dari stasiun-stasiun itu, millennials. Sementara, saat ini sudah aktif dari kereta di area area pilihan tempat tinggal atau rumah yang punya kedekatan lokasi dengan stasiun.

 

Tag : properti, generasi milenial
Editor : Fajar Sidik

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top