Kampanye Negatif Sawit Mesti Dibalas Kampanye Positif

Gencarnya kampanye negatif terhadap kelapa sawit dan turunannya mesti dibalas dengan riset yang valid mengenai keunggulan komoditas tersebut.
Annisa Margrit | 25 April 2018 13:41 WIB
Petani memindahkan kelapa sawit hasil panen ke atas truk di Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, Rabu (4/4/2018). - JIBI/Rachman

Bisnis.com, NUSA DUA — Gencarnya kampanye negatif terhadap kelapa sawit dan turunannya mesti dibalas dengan riset yang valid mengenai keunggulan komoditas tersebut.

Direktur Utama PT Sinarmas Agro Resources and Technology Tbk. Daud Dharsono mengatakan kampanye negatif yang datang dari luar maupun dalam negeri tidak perlu dibalas dengan hal-hal yang juga negatif. Sebaliknya, diperlukan riset yang komprehensif untuk menunjukkan sisi positif komoditas tersebut.

“Tidak perlu dihantam balik. Mari kita kampanyekan yang positif dari sawit, bahwa sawit itu paling efisien dan sebagainya, secara sistematis dan berdasarkan riset ilmiah,” tuturnya dalam The 6th International Conference on Oil Palm and Environment (ICOPE) yang bertemakan Embracing Sustainable Palm Oil: Solutions for Local Production and Global Change di Nusa Dua, Bali, Rabu (25/4/2018).

Direktur Policy, Sustainaibility, and Transformation WWF Indonesia Aditya Bayunanda menilai wajar jika kelapa sawit menjadi komoditas unggulan Indonesia karena potensinya luar biasa besar dan iklim Indonesia sangat cocok untuk komoditas ini. Namun, dia mengakui ada ekses negatif dari pengembangan kelapa sawit.

“Dari konteks teknologi dan inovasi bisa dipecahkan karena eksesnya kan dari ekspansinya. Kalau kita bisa tingkatkan produktivitas lewat intensifikasi yang ramah lingkungan, misalnya pupuk yang tidak dibuat dari bahan kimia, ini jadi salah satu poin penting,” papar Aditya.

Dalam pembukaan ICOPE 2018, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution pun menyinggung banyaknya kampanye negatif terhadap kelapa sawit. Tetapi, dia mengklaim pengembangan komoditas ini sebenarnya lebih efisien dibandingkan produksi vegetable oil lainnya seperti yang dihasilkan dari kedelai, sunflower oil, dan rapeseed oil.

“Sawit adalah jawaban Indonesia dalam isu lingkungan. Sawit adalah tanaman yang paling efisien dan sejalan dengan keberlanjutan lingkungan. Riset menunjukkan crop lainnya lebih berkontribusi terhadap deforestasi,” terang Darmin.

Menurutnya, solusi yang tepat adalah bagaimana sektor bisnis dan lingkungan bisa bekerja sama dalam mengembangkan sawit yang ramah lingkungan. Apalagi, populasi manusia di dunia akan terus bertambah sehingga diperlukan komoditas dengan produktivitas dan efisiensi tinggi untuk menjamin keamanan pangan.

Tag : minyak sawit
Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top