HIS Travel Bidik 10% Pangsa Pasar Wisatawan Indonesia ke Eropa

PT Harum Indah Sari Tours and Travel (H.I.S Travel) membidik 10% pangsa pasar turis asal Indonesia yang berwisata ke Eropa dalam operasional tiga tahun pertama kantor cabang H.I.S spesialis Eropa yang baru didirikan.
Deandra Syarizka | 25 April 2018 15:51 WIB
Menara Eiffel. - .Reuters/Philippe Wojazer

Bisnis.com, JAKARTA-- PT Harum Indah Sari Tours and Travel (H.I.S Travel) membidik 10% pangsa pasar turis asal Indonesia yang berwisata ke Eropa dalam operasional tiga tahun pertama kantor cabang H.I.S spesialis Eropa yang baru didirikan.

Mutsumi Gomi,  South East Asia Regional Sales Division Director General H.I.S Travel menjelaskan, saat ini kecenderungan pelancong Indonesia untuk berwisata perseorangan semakin membesar ketimbang pesiar dalam grup. Setelah Jepang, kini pihaknya menilai Eropa menjadi destinasi favorit baru bagi wisatawan Indonesia.

“Di sekitar Jakarta ini untuk kelas menengah atas sudah mempunyai kebiasaan travelling memang bertambah [jumlahnya], terutama untuk destinasi Eropa. Hal ini juga berlaku di Jepang. Eropa kian menjadi destinasi favorit,” ujarnya, saat pembukaan HIS Europe, Rabu (25/4/2018).

Menurutnya, Eropa telah lama menjadi destinasi tujuan para pelancong dari seluruh dunia. Sebagai biro perjalanan wisata, pihaknya mengaku dapat menjelajahi banyak hal dari kawasan tersebut, dari keindahan alam hingga kekayaan budaya.

Dia memaparkan, konsep dari kantor cabang spesialis Eropa ini berbeda dengan cabang HIS Travel lainnya. Pasalnya, pelanggan bisa mendapatkan pelayanan secara premium dari konsultan perjalanan ke Eropa.

Di samping itu, pihaknya juga bekerja sama dengan Club Med dan MIKI Tourist untuk membuat paket wisata perjalanan ke Eropa baik untuk individu maupun grup yang menarik dan berbeda dengan paket wisata pada umumnya.

Dia menambahkan, meskipun berbasis di Jepang, HIS Travel juga memiliki jaringan yang luas di Eropa degan 30 kantor cabang di 22 negara di Eropa, di antaranya Perancis, Italia dan Jepang. Di Indonesia sendiri, HIS Travel pertama kali membuka biro perjalanan outbound (ke luar negeri) pada 2009, dan saat ini telah memiliki 28 kantor cabang yang tersebar di Jakarta, Bandung, Yogyakarta dan Surabaya. Adapun secara global, HIS Travel memiliki total 554 kantor cabang di 70 negara di seluruh dunia.

Arief Kurnia, General Manager Operation Officer H.I.S Indonesia menjelaskan, potensi pasar wisatawan Indonesia yang berwisata ke Eropa cukup besar, mencapai sekitar 200.000 per tahun.

Hal ini seiring dengan pergantian tren destinasi wisata favorit masyarakat. Setelah Asia, Australia, kini cukup banyak masyarakat Indonesia yang berwisata ke Eropa.

 “Target kita dalam tiga tahun pertama memang ingin dapat 10% market share dari 200.000 itu. Pasarnya memang besar, seiring pertumbuhan jumlah kelas menengah. Banyak yang bisa travelling dua sampai tiga kali dalam setahun,” ujarnya.

Dia menambahkan, kantor cabang HIS Europe ini merupakan cabang pertama yang khusus melayani destinasi Eropa. Menurutnya, kantor cabang lainnya melayani rute secara umum, dengan Jepang masih menjadi destinasi favorit.

Pada tahun ini, pihaknya juga tengah menjajaki pembukaan kantor cabang spesialis di salah satu pusat perbelanjaan di kawasan Jakarta Utara. Dia mengaku tak memiliki target khusus pembukaan cabang baru, karena menyesuaikan dengan permintaan di lapangan. Namun di menyebut, rata-rata HIS Travel Indonesia dapat membuka empat hingga lima kantor cabang baru setiap tahun.

Adapun pada pembukaan perdananya, pihaknya menawarkan sejumlah paket wisata grup untuk keberangkatan saat libur lebaran. Harganya dipatok mulai dari Rp31,9 juta hingga Rp45,8 juta untuk wisata selama 13 hari 10 malam ke sejumlah destinasi pillihan, seperti Prague, Venice, Paris, dan banyak lainnya.

Mengenai pelemahan nilai tukar rupiah, Arief mengaku tak terlalu khawatir. Pasalnya, kebanyakan wisatawan Indonesia yang berlibur ke Eropa telah menyiapkan dananya dari jauh hari. Meski demikian, dia mengaku terbuka kemungkinan untuk melakukan penyesuaian harga paket wisata bila nilai tukar rupiah semakin fluktuatif.

 “Kita lihat dulu responnya. [Pelemahan rupiah] setidaknya mempengaruhi kapan mereka akan berangkat, tetapi untuk penyesuaian harga kita harus lihat dulu apakah masih bisa bersaing di pasar atau tidak,” ujarnya.

 

Tag : london
Editor : Linda Teti Silitonga

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top