Gonta-Ganti Direksi BUMN Bukti Instabilitas

Gonta-ganti Direksi BUMN dalam waktu singkat dapat menimbulkan instabilitas badan usaha dan menjadikannya kontraproduktif.
Pandu Gumilar | 23 April 2018 16:30 WIB
Bayu Krisnamurthi memberikan penjelasan kepada wartawan - Bisnis/Nurul Hidayat

Bisnis.com, JAKARTA - Gonta-ganti Direksi BUMN dalam waktu singkat dapat menimbulkan instabilitas badan usaha dan menjadikannya kontraproduktif.

Akademisi Institut Pertanian Bogor (IPB) Bayu Krisnamurthi mengatakan pergantian direksi yang baru bekerja dalam jangka waktu yg pendek dapat menimbulkan instabilitas dan kontra produktif. Menurutnya, direksi membutuhan waktu membangun kebersamaan, kesamaan visi, dan sinergi kontribusi.

Bayu menekankan jika hal tersebut terlaksana perusahaan BUMN kemudian dapat bisa lebih produktif bersama-sama.

"Itulah sebabnya, memilih direksi perlu sangat seksama. Dan setelah dipilih dan ditetapkan harus diberi waktu yg cukup," katanya kepada Bisnis, Senin (23/4/2018).

Minggu lalu, Elia Massa digeser dari posisi Direktur Utama Peramina. Kabar terbaru, akan ada pergantian Direktur Utama Bulog dari Djarot Kusumayakti menjadi Budi Waseso meskipun belum diterbitkan surat keputusan resmi.

Mengenai rumor keputusan penggantian Dirut Bulog, Bayu menilai hal ini sebagai langkah riskan karena menjelang bulan puasa dan momentum lebaran.

"Menurut saya, memang agak riskan. 3-4 bulan kedepan adalah masa2 yg kritikal untuk mengamankan ketahanan pangan kita," katanya.

Baginya, bulog adalah bagian integral dari kebijakan pangan berikut langkah operasionalnya. Keberhasilan atau ketidak berhasilan Bulog tidak hanya krn direksi Bulog sendiri, meskipun direksi memang pegang peran penting.

Tag : bumn
Editor : Bunga Citra Arum Nursyifani

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top