Fadel: Kampanye Negatif Sawit Uni Eropa Dipicu Publikasi Bayaran LSM Ini

Pelarangan impor sawit dari Indonesia dengan berbagai alasan seperti mempekerjakan anak di bawah usia di perkebunan sawit jelas merugikan Indonesia. Pada saat yang sama langkah Uni Eropa itu menguntungkan negara penghasil sawit lainnya termasuk Malaysia dan Vietnam.
John Andhi Oktaveri | 23 April 2018 15:59 WIB
Petani memindahkan kelapa sawit hasil panen ke atas truk di Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, Rabu (4/4/2018). - JIBI/Rachman

Bisnis.com, JAKARTA — Pemerintah dan swasta didorong untuk menekan parlemen Uni Eropa yang selalu melakukan kampanye negatif atas produk sawit asal Indonesia sehingga merugikan sedikitnya 50 juta petani sawit.

Demikian disampaikan oleh Ketua Badan Kerja Sama Antar Parlemen (BKSAP) DPR, Nurhayati Assegaf dalam acara konferensi pers bertema “Hasil Kunjungan Grup Kerjasama Bilateral DPR-Uni Eropa” di Gedung DPR, Senin (23/4/2018).

Menurut Nurhayati, yang baru saja memimpin delegasi BKSAP bertemu dengan parlemen Uni Eropa, kuatnya kampanye negatif atas produk sawit Indonesia tidak terlepas dari permainan politik dagang.

Pelarangan impor sawit dari Indonesia dengan berbagai alasan seperti mempekerjakan anak di bawah usia di perkebunan sawit jelas merugikan Indonesia. Pada saat yang sama langkah Uni Eropa itu menguntungkan negara penghasil sawit lainnya termasuk Malaysia dan Vietnam.

Nurhayati mengakui lobi Malaysia dan sejumlah negara lainnya lebih kuat di Uni Eropa dibandingkan Indonesia. Pasalnya negara itu berada dalam naungan negara persemakmuran Inggris.

Pada bagian lain Nurhayati mengatakan Uni Eropa tidak konsisten dalam mendukung negara yang telah mengembangkan demokrasi. Seharusnya, Uni Eropa lebih berpihak kepada Indonesia yang telah membangun demokrasi dengan baik dibandingkan negar-negara Asean lainnya.

“Saya katakan pada mereka, Anda lebih memihak kepada negara yang tidak demokratis ketimbang kami Indonesia yang telah mengembangkan demokrasi,” ujarnya. Nurhayati menilai resolusi Uni Eropa atas produk sawit Indonesia merupakan tindakan yang sangat diskriminatif dan tidak menghargai demokrasi.

Sementara itu, Ketua Masyarakat Agro Industri (MAI) yang juga anggota BKASP, Fadel Mohammad mengatakan kampanye negatif Uni Eropa atas produk sawit asal Indonesia ternyata disebabkan oleh publikasi negatif yang dibuat oleh lembaga swadaya masyarakat Indonesia sendiri.

Menurut investigasi yang dilakukan MAI, LSM yang membuat publikasi isu negatif itu mendapatkan dana yang cukup besar dari pihak asing.

Untuk itu dia meminta pihak Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) untuk menyelidiki dana yang masuk dari pihak asing kepada LSM Indonesia tersebut. Fadel menilai mereka telah melakukan pengkhianatan yang merugikan sedikitnya 50 juta petani sawit Indonesia.

Tag : uni eropa, minyak sawit
Editor : Fajar Sidik

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top