KINERJA FEBRUARI 2018: Ekspor CPO Turun 14 Persen

Ekspor minyak kelapa sawit Indonesia mengalami penurunan sekitar 14% pada Februari 2018 di sejumlah negara utama seperti Amerika Serikat dan India. Kondisi ini dinilai akibat libur hari raya Imlek dan jumlah hari pada bulan berjalan cenderung pendek sehingga transaksi dagang tidak maksimal
Rayful Mudassir | 23 April 2018 18:27 WIB
Tandan buah segar. - .Bisnis

Bisnis.com, JAKARTA – Ekspor minyak kelapa sawit Indonesia mengalami penurunan sekitar 14% pada Februari 2018 di sejumlah negara utama seperti Amerika Serikat dan India. Kondisi ini dinilai akibat libur hari raya Imlek dan jumlah hari pada bulan berjalan cenderung pendek sehingga transaksi dagang tidak maksimal.

Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) mencatat penurunan yang cukup signifikan terjadi di Amerika Serikat yakni sebesar 50%, atau dari 193.470 ton pada Januari turun menjadi 95.990 ton di Februari. Turunnya permintaan dari Negeri Paman Sam ini karena tingginya stok kedelai di dalam negeri.

Penurunan permintaan ini diikuti oleh India sebesar 26%, Pakistan 22%, Uni Eropa 17%, Afrika 16% dan Bangladesh 4%. Dari sisi produksi, pada Februari 2018 produksi minyak sawit Indonesia kembali membukukan penurunan 2% atau dari 3,4 juta ton pada Januari lalu turun menjadi 3,35 juta ton pada Februari 2018.

Wakil Ketua Umum III Gapki Urusan Perdagangan dan Keberlanjutan Togar Sitanggang mengatakan penurunan produksi ini merupakan hal normal. Dia mengaku dengan produksi yang masih stabil dan ekpsor yang tidak tinggi membuat stok minyak sawit Indonesia tetap terjaga dengan baik di kisaran 3,5 juta pada akhir Februari.

“Pada bulan mendatang diperkirakan ekspor akan mulai meningkat terutama ke negara-negar Timur Tengah dan Pakistan di mana negara-negara tersebut sudah mulai menyiapkan stok untuk menyambut bulan Ramadan,” kata Togar dalam keterangan resminya, Senin (23/4/2018).

Sementara untuk ekspor ke China juga diperkirakan bakal meningkat dengan adanya rencana China menaikan tarif impor kedelai dari AS sebagai kebijakan balasan dari kebijakan kenaikan tarif impor baja, aluminium, mesin cuci dan panel surya dari China pada perundingan North America Free Trade Agreement (NAFTA) oleh Pemerintah AS.

Ketua Bidang Luar Negeri Gapki Fadhil Hasan mengatakan sejumlah negara yang mengalami penurunan termasuk India akibat bea masuk yang cukup tinggi diterapkan negara itu. Tingginya harga tersebut nyaris sama dengan harga minyak nabati lainnya. Alhasil sebagian importir memilih memasok soybean dan nabati lainnya.

Meski adanya penurunan di Februari, pihaknya tetap optimistis ekspor CPO tetap melaju seperti tahun-tahun sebelumnya. Dia menilai kebijakan pengenaan tarif untuk kedelai dari AS oleh China dan dibukanya kembali pasar biodiesel ke Uni Eropa juga akan menjadi faktor pendorong peningkatan ekspor tahun ini.

“Selain memanfaatkan peluang ekspor CPO ke China, ekspor biodiesel ke Uni Eropa juga sudah terbuka. Kami juga ikut dalam Indonesia Afrika Forum untuk pasar Afrika dan terus memelihara pasar India juga Pakistan,” katanya.

Transaksi selama Februari yang lebih sedikit, menyebabkan kinerja ekspor selalu lebih rendah dibandingkan bulan Januari. Sementara itu, secara year on year (yoy) total volume ekspor dari Januari-Februari 2018 mencapai 5,1 juta ton atau turun 3% dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang mencapai 5,3 juta ton.

Sementara negara-negara Timur Tengah mencatatkan kenaikan permintaan sebesar 41% atau dari 148.060 ton di Januari naik menjadi 209.000 ton pada Februari. Kenaikan permintaan minyak sawit di negara itu merupakan kenaikan biasa. Kondisi ini terjadi akibat periode transaksi yang terlihat dari pola bulanan. Jika pada bulan sebelumnya turun maka bulan berikutnya akan naik.

Kenaikan permintaan minyak sawit juga dicatatkan oleh China sebesar 6%, atau dari 307.490 ton pada Januari, naik menjadi 326.300 ton di Februari. Kenaikan ini kenaikan normal juga karena adanya perayaan imlek.

Sementara itu, berdasarkan catatan Badan Pusat Statistik menunjukkan ekspor crude palm oil (CPO) dan turunannya mengalami penurunan di sejumlah negara termasuk liquid palm oil pada Maret. Seperti India, ekspor CPO ke negara itu sebesar US$107,4 juta atau turun 22,04% dibanding Februari senilai US$137,7 juta. Sementara secara year on year, ekspor CPO juga anjlok 22,95% atau dari US$193,4 juta pada Maret 2017 turun menjadi US$107,4 juta.

Adapun ekspor minyak sawit olahan ke Pakistan juga surut dari US$53,7 juta pada Februari 2018 menjadi US$32,2 juta pada Maret 2018 atau terjadi penurunan hingga 40,04%. Sementara secara year on year, ekspor ke negara itu turun cukup tajam sebesar 51,57% atau dari US$66,5 juta pada Maret 2017 menjadi US$32,2 juta pada bulan sama 2018.

Ekspor fraksi cair minyak sawit olahan ke Pakistan juga turun. Pada Februari 2018 ekspor ke negara itu mencapai US$75 juta dan turun pada Maret 2018 menjadi US$51,3 atau terjadi penurunan sebesar 31,50%. Secara year on year ekspor komoditas tersebut turun tipis sebesar 1,55% atau dari US$52,1 juta pada Maret 2017 menjadi US$51,3 pada Maret 2018.

Bangladesh juga mencatatkan penurunan ekspor fraksi cair minyak sawit olahan sebesar 50,34% secara month to month yakni dari US$84,9 juta pada Februari menjadi US$43,1 juta pada Maret 2018. Sementara secara year on year ekspor komoditas tersebut turun 5,33% dari atau dari sebelumnya US$45,6 juta pada Maret 2017 menjadi US$43,1 juta pada Maret 2018.

Sebelumnya, Ketua Umum Gapki Joko Supriyono mendorong pemerintah melakukan percepatan kerjasama bilateral dengan negara-negara potensial ekspor, khususnya bagi ekspor CPO. Upaya ini agar pasar ekspor minyak sawit tidak bergantung pada beberapa negara saja, akan tetapi dapat lebih meluas.

Menurut Joko, pengusaha kelapa sawit hingga kini terus melakukan upaya perluasan pasar alternatif seperti kawasan Timur Tengah, Bangladesh, Afrika dan Amerika Serikat. Namun langkah tersebut tidak serta merta mencapai kesepakatan karena mempunyai proses panjang untuk menjalin hubungan dagang.

Di samping itu pihaknya meminta pemerintah membuat banyak perjanjian perdagangan bilateral seperti Preferentian Trade Agreement (PTA), Free Trade Agreement (FTA) hingga Comprehensive Economics Partnership Agreement (CEPA). Langkah itu diyakini dapat menurunkan hambatan dagang antar kedua negara.

Sementara dimulainya perundingan PTA dengan tiga negara Afrika yakni Tunisia, Mozambik dan Maroko. Gapki menilai pasar nontradisional itu memiliki potensi yang besar untuk ekspor CPO. Bahkan pada 2017 ekspor CPO ke Afrika mencapai 2,29 juta ton atau meningkat sebanyak 50% dibanding 2016.

“Afrika tetap harus dipertimbangkan sebagai pasar yang penting. Pemerintah juga harus melakukan negosiasi agar perjanjian perdagangan dapat dilakukan sebanyak mungkin. Secara garis besar cukup potensial untuk Indonesia,” katanya kepada Bisnis pekan lalu.

 

Tag : cpo
Editor : Linda Teti Silitonga

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top