LAPORAN DARI CHINA: Catatan Pendek tentang Revolusi Digital di Negeri Panda

China kini telah membuka diri dan menunjukkan kepada dunia bahwa mereka adalah salah satu negara terkuat di dunia dalam sejumlah aspek, termasuk teknologi. Situasi mutakhir di China berbeda cukup drastis dibandingkan dengan negara sesama Asia yaitu Indonesia. Revolusi digital sedang dan masih akan terus terjadi di China.
Yodie Hardiyan | 23 April 2018 19:04 WIB
Sejumlah pegawai supermarket Hema di Hangzhou, Provinsi Zhejiang, China berdiri di depan mesin pengenalan muka. Teknologi itu memungkinkan konsumen berbelanja tanpa membawa uang tunai atau menemui kasir. - Bisnis/Yodie Hardiyan

Inikah revolusi? Pertanyaan ini muncul setelah melihat secara langsung perkembangan teknologi di negara yang pernah menutup diri di masa lalu: China.

China kini telah membuka diri dan menunjukkan kepada dunia bahwa mereka adalah salah satu negara terkuat di dunia dalam sejumlah aspek, termasuk teknologi. Situasi mutakhir di China berbeda cukup drastis dibandingkan dengan negara sesama Asia yaitu Indonesia. Revolusi digital sedang dan masih akan terus terjadi di China.

Bersama sembilan wartawan Indonesia lainnya, wartawan Bisnis Indonesia diundang dan disponsori oleh Alibaba Group Holding Ltd. untuk menyaksikan aneka inovasi terbaru mereka dalam sebuah strategi bernama "ritel baru" (new retail). Strategi ini menggabungkan dua konsep perdagangan yaitu dalam jaringan (online) dan luar jaringan (offline).

Tim Alibaba mengajak wartawan Indonesia mengunjungi lima toko di Hangzhou, ibu kota Zhejiang, yang mengombinasikan toko fisik dan teknologi. Strategi ini setidaknya memiliki efek berupa efisiensi bagi pemilik usaha dan berupa keragaman pilihan bagi konsumen.

Konsep ini menjadi pelumas tambahan bagi mesin ekonomi China yang masih terus bekerja secara menakjubkan. Konsep ini belum dapat ditemukan di pusat-pusat belanja di Indonesia.

Kunjungan ke Warung Makan Wu Fang Zhai

Pada suatu hari yang cerah pada Kamis (18/4/2018), kami memulai kunjungan ke sebuah warung makan bernama Wu Fang Zhai. Ini adalah warung yang terletak di tepi jalan.

Warung ini buka mulai pukul 06.00 sampai 21.00 waktu setempat. Dari segi ukuran ruangan sampai lokasi, warung sejenis ini mirip warung makan yang banyak terdapat di Jakarta.

Apa spesialnya warung ini? Warung ini menjadi spesial berkat teknologi. Untuk dapat mengetahui betapa spesialnya warung ini, mari sedikit berimajinasi: Anda sedang dalam perjalanan pulang dari kantor.

Tampak depan warung Wu Fang Zhai. Di bagian itu, konsumen dapat membeli makanan atau minuman menggunakan aplikasi Alipay.

Dalam perjalanan dari kantor ke rumah, Anda ingin mampir ke warung untuk makan malam. Tetapi, Anda tidak ingin menunggu lama makanan itu disajikan karena Anda keburu lapar. Bagaimana solusinya?

Dengan aplikasi milik Alibaba yaitu Koubei dan Alipay, Anda bisa memilih, memesan dan membayar makanan ketika sedang dalam perjalanan menuju ke warung. Tidak perlu antri, tidak perlu menunggu lama sampai makanan disajikan dan tentu saja: praktis.

Anda tidak perlu membawa uang tunai. Yang Anda perlukan hanyalah, telepon genggam, saldo di dompet elektronik dan layanan internet. Sesampainya di warung, makanan itu telah siap disajikan.

Tidak ada kasir di warung itu! Tidak diperlukan pula tatap muka antara pelayan atau pemesan makanan.

Dari kacamata pemilik toko, teknologi ini memungkinkan toko untuk memperkerjakan lebih sedikit pegawai. Efeknya adalah efisiensi. Suka atau tidak suka, tenaga manusia diambil alih oleh teknologi.

Perwakilan Alibaba yang menemui kami siang itu, Liszt, mengatakan penjualan warung itu meningkat hingga 40% sejak menggunakan teknologi tersebut pada Januari 2018. Teknologi itu menarik orang untuk membeli makanan.

Suasana di warung makan Wu Fang Zhai. Di bagian kanan warung makan terdapat kotak-kotak yang digunakan bagi konsumen untuk mengambil makanan. 

Orang tertarik membeli makanan karena tidak perlu menunggu lama dan praktis. Sebelum ada teknologi itu, pemesanan makanan membutuhkan waktu 30 menit.

"Sekarang cuma membutuhkan waktu 16-18 menit," ujar Liszt, yang menjelaskan dan memperagakan penggunaan teknologi melalui aplikasi di telepon genggam untuk memesan makanan dan minuman.

Bagaimana ketika sudah sampai di warung tapi makanan belum siap untuk disajikan? Anda bisa memindai kode QR (kode yang sudah sangat familiar di China) yang tertempel di dinding warung. Anda lalu bisa memainkan suatu jenis permainan dan mendapatkan kupon untuk potongan harga.

Pada saat ini, dari 400 warung Wu Fang Zhai di seluruh China, 6 gerai di antaranya sudah menerapkan konsep ritel baru ini. Untuk 1 warung dibutuhkan waktu hanya 2 bulan untuk memasang sistem ini.

Oh ya, makanan yang sudah siap untuk dimakan bisa diambil di "loker" dengan ukuran sejenis mesin pemanas makanan (microwave). Teknologi ini membuat pemesan makanan tidak bisa lagi menggoda pelayan cakep yang mengantar makanan....

Kunjungan ke Toko HomeTimes

Hari beranjak siang. Kami kemudian diajak untuk mengunjungi toko perlengkapan rumah tangga bernama HomeTimes di sebuah pusat belanja di Hangzhou.

HomeTimes menjual furnitur, alat-alat dapur sampai pernak pernik dekorasi rumah. Sekilas, HomeTimes tampak seperti toko sejenis di pusat belanja di Jakarta. Apa bedanya HomeTimes dengan toko sejenis di Jakarta?

Tampak depan gerai HomeTimes.

Masuklah ke toko tersebut dan pilih produk yang menarik hati. Setiap produk memiliki papan kecil seukuran kartu nama yang diletakkan di depannya dan berisi keterangan harga serta kode QR. Pindai kode QR dan Anda akan mendapatkan informasi lainnya tentang produk tersebut.

Datang ke toko, melihat produk di toko, tapi membeli produk itu secara online melalui Tmall (aplikasi milik Alibaba), apakah bisa? Tentu saja bisa.

Papan kecil itu dapat mengubah harga yang tertera secara otomatis. Tidak perlu lagi pegawai toko mencetak label harga yang baru lalu menempelkannya di papan. 

Papan itu merupakan papan elektronik yang dapat menyesuaikan harga produk di toko online atau di toko offline. Dengan demikian, toko online tidak membunuh toko offline, tapi saling melengkapi.

HomeTimes juga menerima pembayaran menggunakan dompet elektronik Alipay. Manajer toko yang kami temui, Lai Ka, menyatakan penggunaan teknologi ini diharapkan dapat meningkatkan penjualan.

Dia juga menunjukkan layar berukuran besar di dalam toko yang dapat digunakan untuk memajang produk yang tidak dapat dipajang di dalam toko.

"Kami tampilkan di sini karena keterbatasan ruang," tutur Lai Ka.

Lai Ka menunjukkan cara membayar menggunakan dompet elektronik Alipay dengan cara memindai kode QR.

Dengan layar tersebut, konsumen bahkan dapat mencoba menata ruangan secara virtual. Sebagai contoh, layar tersebut menunjukkan gambar ruang tamu yang berisi meja, kursi, lampu dan sebagainya. Anda bisa menyentuh meja itu di layar dan kemudian menggantinya dengan merek atau warna lain. Layar itu membantu visualisasi atas imajinasi mengenai ruang.

Setelah dari HomeTimes, kami juga diajak untuk mengunjungi Hema, sebuah supermarket yang dimiliki oleh Alibaba. Bisnis Alibaba memang bukan cuma dunia internet.

Di Hema, teknologi digital digunakan untuk memudahkan pembayaran. Anda tidak perlu ke kasir untuk membayar barang yang dibeli. Anda bisa memilih produk, datang ke mesin dengan layar sentuh lalu menghadapkan muka ke layar tersebut.

Ya, mesin itu menggunakan teknologi pengenalan muka. Layar itu dapat mengenali muka Anda kemudian meminta angka sandi lalu memproses pembelian barang setelah memindai kode QR di barang yang dibeli. Selesai, tanpa uang tunai dan kasir.

Revolusi Digital di China

Perangkat digital, termasuk internet di dalamnya, kian dikenal oleh masyarakat China, dari kota sampai ke desa. Seorang warga China bercanda bahwa benda yang lebih penting sekarang dibawa adalah smartphone dan powerbank, bukan dompet. Tanpa dompet tapi ponsel pintar, masyarakat China tetap bisa melakukan transaksi ekonomi.

Dalam kunjungan ke Hangzhou, seorang supir taksi online yang mengantar kami bahkan sempat menolak menerima uang tunai sebagai alat pembayaran. Supir itu meminta kami membayar menggunakan alat elektronik dengan cara memindai kode QR. Ini satu contoh kecil tentang perubahan yang terjadi dalam masyarakat China.

Jasa peminjaman payung menggunakan sistem kode QR di Nanning, Guangxi, China.

"China sedang berada di tengah revolusi digital," tulis riset McKinsey Global Institute dalam sebuah laporan berjudul China's Digital Transformation: The Internet's Impact of Productivity and Growth yang dirilis pada Juli 2014.

Menurut riset itu, jumlah perangkat cerdas yang aktif tumbuh dari 380 juta unit menjadi 700 juta unit sepanjang 2013. Dalam satu hari, platform dagang elektronik di Taobao dan Tmall--keduanya punya Alibaba--membukukan penjualan lebih dari RMB 36 miliar, sekitar US$6 miliar, hanya dalam 24 jam.

Sekitar lima miliar pencarian dibuat melalui Baidu, sebuah mesin pencari asal China dan ratusan juta orang berkomunikasi melalui WeChat, aplikasi berkirim pesan milik korporasi China, Tencent.

Pada 2013, 632 juta orang atau sekitar 46% dari 1,36 miliar penduduk China merupakan pengguna internet aktif. Angka penetrasi internet 46% itu memang lebih rendah dibandingkan dengan angka penetrasi internet di AS yang sebesar 87%. Tetapi, secara jumlah, jumlah pengguna internet di China menggungguli Negeri Paman Sam yang mencapai 277 juta orang.

Kios kaki lima di Nanning, Guangxi, menggunakan kode QR sebagai salah satu metode pembayaran.

McKinsey mencatat nilai perdagangan ritel elektronik (e-tailing) di China mencapai US$295 miliar atau unggul dibandingkan dengan yang tercatat di AS yang sebesar US$$270 miliar pada 2013. Pada tahun yang sama, jumlah barang yang dijual atau pembeli aktif di Taobao atau Tmall lebih banyak dibandingkan dengan platform milik AS, yaitu eBay.

Secara makro, porsi ekonomi internet China mencapai 4,4% dari Produk Domestik Bruto (PDB) negara tersebut. Angka itu lebih tinggi dibandingkan dengan porsi di negara maju lainnya seperti AS dan Jerman. Pada 2025, menurut prediksi McKinsey, kontribusi ekonomi internet terhadap PDB China mencapai 7%-22%.

Sejumlah fakta dan prediksi itu merupakan secuil gambaran mengenai revolusi digital di China, revolusi yang benar-benar terjadi dan bukan hanya muncul di pidato para pejabat. China membangun industri digitalnya secara besar-besaran. Kurang dari 20 tahun sejak 1999, Alibaba kini menjadi salah satu korporasi digital dengan ukuran paling besar di dunia.

Berkat sistem kapitalisme global, cepat atau lambat, berbagai inovasi sebagai hasil dari revolusi digital di China itu akan masuk ke Indonesia. Pertanyaan yang perlu kita renungkan bersama adalah bagaimana kita dapat membangun negara sekuat China seperti China di masa lalu berusaha menyaingi AS dalam banyak aspek termasuk teknologi?

Tag : china, ekonomi digital
Editor : Annisa Margrit

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top