Manufaktur Moncer, Penerimaan Pajak Cerah

Direktorat Jenderal Pajak memproyeksikan penerimaan pajak akan membaik seiring pertumbuhan penerimaan pajak dari sektor manufaktur.
Edi Suwiknyo | 20 April 2018 13:48 WIB
Ilustrasi: Petugas melayani wajib pajak dalam pelaporan Surat Pemberitahuan Tahunan (SPT) Pajak Penghasilan (PPh) Orang Pribadi (OP) tahun 2016 di Kanwil Direktorat Jenderal Pajak (DJP) Jawa Timur I, Surabaya, Jawa Timur, Jumat (21/4). - Antara/Moch Asim

Bisnis.com, LOMBOK - Direktorat Jenderal Pajak memproyeksikan penerimaan pajak akan membaik seiring pertumbuhan penerimaan pajak dari sektor manufaktur.

Direktur Jenderal Pajak Robert Pakpahan mengatakan bahwa pertumbuhan penerimaan di sektor manufaktur bisa menunjukan kinerja manufaktur terhadap perekonomian juga berangsur membaik. Jika kontribusi manufaktur ke penerimaan membaik maka diharapkan penerimaan pajak juga ikut membaik.

Hal itu terjadi, lantaran di antara semua sektor penopang penerimaan pajak, penerimaan sektor manufaktur merupakan yang paling besar. Jika melihat basis realisasi penerimaan 2017, dengan total penerimaan pajak sebesar Rp1.151 triliun, sektor manufaktur berkontribusi sebesar 31,8% atau sekitar Rp368,3 triliun.

Tahun ini tepatnya pada triwulan 1/2018, dengan total penerimaan Rp63,91 triliun, kontribusi sektor manufakur terhadap penerimaan pajak triwulan I/2018 mencapai 28,1% atau Rp17,9 triliun.

Bagi otoritas pajak, angka ini sejalan dengan kontribusinya ke produk domestik bruto. Artinya bila sektor manufaktur tumbuh maka penerimaan pajak harusnya juga tumbuh.

Sebagai contoh, kontribusi sektor manufaktur terhadap PDB sebesar 20,16% pada tahun 2017. Dengan kontribusinya ke penerimaan pajak pada triwulan 1/2018 sebesar 28,1%, maka kontribusinya ke penerimaan pajak lebih besar dibandingkan ke PDB.

"Iya ini meningkat, ini dampak dari ekonomi dan kepatuhan. Jadi dua-duanya," kata Robert di Jakarta, Jumat (20/4/2018).

Sebelumnya ekonom Indef Eko Listianto mengatakan pertumbuhan penerimaan pajak dari sektor manufaktur lebih banyak dipengaruhi oleh perbaikan dari sisi administrasi pajak. Misalnya, ia menyebut efek implementasi pengampunan pajak maupun perbaikan dari sistem pelaporannya.

"Jadi masih sangat terlalu dini jika menganggap manufaktur tumbuh karena penerimaan pajak dari sektor ini mengalami pertumbuhan," kata Eko.

Perbaikan administrasi ini, lanjut Eko, sejalan dengan meningkatnya kepatuhan wajib pajak yang dibuktikan dengan pertumbuhan realisasi pelaporan surat pemberitahuan atau SPT. Momentum perbaikan dari sisi ini sedikit banyak mempengaruhi penerimaan pajak, termasuk di sektor manufaktur.

Eko tak menampik jika dibandingkan dengan sektor lainnya, penerimaan pajak dari manufaktur adalah yang paling tinggi. Tahun lalu misalnya kontribusinya ke penerimaan hampir mencapai 1/3 dari total penerimaan secara keseluruhan. Kinerja apik di sektor ini, acapkali dianggap sejalan dengan kinerja sektor manufaktur.

Padahal, menurutnya, untuk mengukur kinerja manufaktur tak hanya dari besaran kontribusinya ke penerimaan pajak, melainkan perlu mengkaji dari sisi daya beli atau serapan kredit dari perbankan ke sektor tersebut.

"Kredit masih rendah, kuncinya sebenarnya di daya beli. Apalagi konsumen produk manufaktur sebagian besar domestik, kalaupun diekspor itu hanya sebagian kecil saja," tukasnya.

 

Tag : manufaktur, penerimaan pajak
Editor : Saeno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top