TNI, Polri, dan Intelijen Diminta Usut Tumpahan Minyak di Teluk Balikpapan

Anggota Fraksi Partai Hanura Mukhtar Tompo meminta TNI, Polri dan aparat intelijen untuk terlibat dalam penyelidikan kasus patahnya pipa penyalur minyak mentah di Penajam Paser Utara ke kilang Balikpapan, Kalimantan Timur.
John Andhi Oktaveri | 18 April 2018 15:50 WIB
Ratusan warga berkumpul untuk membersihkan pesisir Pantai Kilang Mandiri di Balikpapan, Kalimantan Timur, Rabu (4/4). Masyarakat bersama instansi pemerintah dan aparat keamanan setempat membersihkan beberapa pantai wisata di kota tersebut guna memulihkan kondisi pesisir Balikpapan yang tercemar tumpahan minyak. ANTARA FOTO - Sheravim

Bisnis.com, JAKARTA - Anggota Fraksi Partai Hanura Mukhtar Tompo meminta TNI, Polri dan aparat intelijen untuk terlibat dalam penyelidikan kasus patahnya pipa penyalur minyak mentah di Penajam Paser Utara ke kilang Balikpapan, Kalimantan Timur.

Menurutnya, insiden itu tidak biasa sehingga menimbulkan kecurigaan adanya keterlibatan kapala asing yang punya kepentingan besar atas sumber daya alam Indonesia.

Mokhtar menyebut tim investigasi harus mendalami penyebab pipa patah yang mengarah pada kapal asing MV Ever Judger tersebut. Pasalnya, jangkar kapal seberat 12 ton diduga tersangkut pipa. Namun, kapal itu menggaruknya sehingga pipa penyalur minyak mentah patah dengan bekas garukan yang ditingalkan.

“Ini bukan peristiwa biasa. Ini aneh. Saya minta TNI, Polri dan intelijen kita turun menyelidiki patahnya pipa Pertamina mengingat adanya dugaan rekayasa dalam kasus ini,” ujarnya saat memberikan keterangfan di Gedung DPR hari ini, Rabu (18/4/2018).

Mokhtar juga marah melihat perkembangan penanganan kebakaran pipa minyak di Perairan Teluk Balikpapan pada 31 Maret 2018 yang menelan korban 5 nyawa orang Indonesia tersebut.

“Ini sudah tidak benar, ada kejanggalan tentang penanganan kebakaran pipa minyak milik Pertamina itu. Masa yang merusak pipa dengan melabuh jangkar seberat 20 ton tidak diminta pertanggungjawabkan sehingga yang menanggung adalah PT Pertamina,” ujarnya.

Apresiasi Pertamina

Dia mengapresiasi Pertamina yang telah memberi santunan kepada korban sebesar Rp2,7miliar lebih.

Menurutnya, semestinya yang bertanggungjawab juga ikut membayar santunan.

“Sekarang ini limbah minyak itu sudah menyebar seluas 13.000 hektare yang sampai ke Makassar. Soal limbah ini karena sudah sampai ke Makassar tempat kelahiran saya, maka saya akan mempersoalkan juga,” ujarnya.

“Biasanya jika satu kapal besar mau melabuh jangkar harus mengetahui kedalaman dasar air, juga di bawahnya apa ada pipa saluran minyak atau tidak.

Bukan sembarngan melabuh, inilah keanehan yang belum terjawab,” ujar Mokhtar.

Sampai sekarang Kapal MV Ever Judger tidak pernah membuat pengakuan dosa dan meminta maaf. Sebenarnya merekalah yang merusak pipa, katanya.

 

 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
pertamina

Editor : Nancy Junita

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top