Kemenperin Pererat Kerja Sama dengan Norwegia

Kendati pasar Norwegia tidak terlalu besar dengan jumlah penduduk sekitar 5 juta jiwa, kerja sama perdagangan dengan negara itu tetap penting. Perdagangan dengan Norwegia akan membuka jalan kerja sama dengan negara Skandinavia lainnya.
Annisa Sulistyo Rini | 18 April 2018 18:47 WIB
Direktur Jenderal Ketahanan dan Pengembangan Akses Industri Internasional (KPAII) Kementerian Perindustrian, I Gusti Putu Suryawirawan. - Kemenperin

Bisnis.com, JAKARTA—Kendati pasar Norwegia tidak terlalu besar dengan jumlah penduduk sekitar 5 juta jiwa, kerja sama perdagangan dengan negara itu tetap penting. Perdagangan dengan Norwegia akan membuka jalan kerja sama dengan negara Skandinavia lainnya.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), selama kuartal I/2018, pasar Uni Eropa memberi kontribusi sebesar 10,66% atau senilai US$4,29 miliar dari total ekspor.

Terkait dengan ekspor tekstil dan produk tekstil (TPT), Kemenperin memperkirakan bisa naik hingga tiga kali lipat apabila perjanjian perdagangan bebas (free trade agreement/FTA) dengan Eropa dan Amerika Serikat bisa diselesaikan. Saat ini ekspor TPT Indonesia sekitar US$12 miliar.

Pada tahun ini, ekspor TPT ditargetkan naik menjadi US$15 miliar. Ekspor industri padat karya ini merupakan penyumbang terbesar ketiga dari seluruh industri manufaktur.

I Gusti Putu Suryawirawan, Direktur Jenderal Ketahanan dan Pengembangan Akses Industri Internasional Kemenperin, mengatakan selama ini produk Indonesia lebih sulit masuk ke pasar Eropa. Hambatan yang dihadapi tidak hanya sebatas bea masuk, tetapi juga nontarif seperti persyaratan labeling dan lainnya.

“Apabila Pemerintah Norwegia meminta kemudahan produk perikanan masuk, maka Indonesia juga meminta ketiga produk tersebut tidak dihambat masuk ke sana,” ujar Putu selepas mendampingi Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto saat menerima kunjungan Menteri Perikanan Norwegia Per Sandberg

Putu menambahkan terkait dengan produk CPO dan turunannya, dalam pertemuan tersebut Sanberg menyampaikan selama partai yang mengusungnya memegang pemerintahan Norwegia, maka tidak akan ada pelarangan terhadap produk tersebut.

“Memang betul di parlemen Norwegia ada indikasi mau ikut melarang biofuel pada 2021. Tapi, dia [Sandberg] mengatakan bahwa selama pemerintahan mereka yang pegang, pelarangan itu tidak ada,” jelas Putu.

Tag : ekspor
Editor : Ratna Ariyanti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top