Kuartal I, Impor Bahan Baku Naik 18,35%

Pelaku industri masih meningkatkan impor bahan baku selama kuartal I/2018.
Annisa Sulistyo Rini | 16 April 2018 16:10 WIB
Pekerja menyelesaikan pembuatan kue kering di pabrik PT Bonli Cipta Sejahtera di Bandung, Jawa Barat, Selasa (19/12). - JIBI/Rachman

Bisnis.com, JAKARTA—Pelaku industri masih meningkatkan impor bahan baku selama kuartal I/2018.

Badan Pusat Statistik (BPS) merilis nilai impor bahan baku/penolong pada periode Januari--Maret 2018 mengalami peningkatan sebesar 18,35% atau senilai US$5,09 miliar. Jika dibandingkan dengan bulan sebelumnya, impor bahan baku/penolong selama Maret 2018, meningkat 2,62%.

Pada Maret 2018 impor bahan baku/penolong memberikan peranan terbesar, yaitu 74,76% atau senilai US$10,83 miliar, diikuti dengan impor barang modal sebesar 16,94% dengan nilai US$2,45 miliar, dan impor barang konsumsi sebesar 8,30% dengan nilai US$1,20 miliar.

"Kalau impor bahan baku dan barang modal naik diharapkan akan menggerakkan perekonomian dalam negeri," ujar Kepala BPS Suhariyanto di Jakarta, Senin (16/4/2018).

Beberapa komoditas bahan baku/penolong impor yang mengalami kenaikan terbesar antara lain prime steel billets dari Oman dengan kenaikan US$34,5 juta, gula dari Thailand dengan kenaikan US$71,8 juta, dan kapas dari Amerika Serikat dengan kenaikan US$27,2 juta.

Impor gula banyak digunakan oleh industri makanan dan minuman, seperti untuk sirup dan aneka pangan olahan. Kenaikan impor gula ini ditengarai sebagai persiapan dalam memenuhi peningkatan permintaan menjelang bulan puasa dan Lebaran.

Dari sisi pelaku industri mamin, Adhi S Lukman, Ketua Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Seluruh Indonesia (Gapmmi) sebelumnya mengatakan kenaikan impor bahan baku merupakan antisipasi lonjakan permintaan pada bulan Ramadan dan Hari Raya Idul Fitri.

Adhi menyatakan permintaan pada Maret baru mengalami kenaikan setelah melambat pada Januari dan Februari tahun ini. Para pelaku industri berharap momen puasa dan Lebaran dapat mendongkrak permintaan yang lebih besar. 

Sepanjang tahun ini, industri mamin diproyeksikan tumbuh lebih dari 10% atau naik dibandingkan pertumbuhan tahun lalu yang sebesar 9,23%.

Seiring dengan peningkatan impor bahan baku, ekspor industri pengolahan juga naik 4,60% y-o-y menjadi US$32,03 miliar selama kuartal I/2018. Untuk Maret 2018, ekspor industri pengolahan tercatat senilai US$11,17 miliar atau tumbuh 9,17% dibandingkan dengan bulan sebelumnya. 

Peningkatan selama bulan ketiga tersebut disumbang oleh peningkatan ekspor besi dan baja yang mengalami pertumbuhan sebesar 64,94% dibandingkan bulan sebelumnya. Nilai ekspor besi dan baja pada Maret 2018 sebesar US$532,58 juta. 

Sementara itu, sepanjang kuartal I/2018 ekspor besi dan baja tercatat senilai US$1,25 miliar atau naik 125,11% secara tahunan. 

 

Tag : industri
Editor : Ratna Ariyanti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top