ICELAND TOLAK CPO, Pengusaha Sawit Sebut Soal Gugatan

Direktur Eksekutif Council of Palm Oil Producer Countries (CPOPC) Mahendra Siregar mengatakan upaya untuk menghentikan perlakukan salah satu ritel modern Inggris yakni Iceland Food ialah dengan menggugat ke pemerintah setempat.
Rayful Mudassir | 16 April 2018 20:05 WIB
Tandan sawit segar. - .

Bisnis.com, JAKARTA- Direktur Eksekutif Council of Palm Oil Producer Countries (CPOPC) Mahendra Siregar mengatakan upaya untuk menghentikan perlakukan salah satu ritel modern Inggris yakni Iceland Food ialah dengan menggugat ke pemerintah setempat.

“Jika ingin diangkat ke upaya hukum harus dilakukan oleh perusahaan, bukan pemerintah,” katanya kepada Bisnis, Senin (16/4/2018).

Pemerintah menurutnya tidak dapat melakukan gugatan lantaran kondisi ini menyangkut bisnis masing-masing pihak. Dalam hal ini menyangkut pengusaha ritel dan produsen yang menggunakan bahan baku dari minyak kelapa sawit.

Meski begitu, pihaknya mengaku telah mengirim surat protes yang ditujukan kepada Managing Director Iceland Foods Richard Waker. Pihaknya akan menunggu balasan surat tersebut dalam waktu normal yang tidak ditentukan.

Menurutnya, langkah yang dilakukan Iceland Food merupakan sebuah diskriminasi dan melakukan kmapanye sesat kepada konsumen sehingga dapat dilakukan gugatan secara hukum. Dia meminta para pelaku bisnis memperhatikan langkah yang dilakukan ritel tersebut agar tidak terlalu berlatur-latrut.

“Ini persoalan reputasi minyak kelapa sawit yang dipandang buruk. Kalau masalah penjualan tidak kami permasalahkan. Namun reputasi dan alasan mereka yang menjadi masalah,” katanya.

Untuk diketahui Iceland Foods merupakan salah satu jaringan supermarket terbesar di Eropa dengan total jumlah gerai mencapai 857 unit di seluruh Eropa dan mayoritas di Inggris. Iceland juga memproduksi dan menjual makanan beku, termasuk makanan siap saji dan sayuran. Perusahaan ritel ini memiliki sekitar 2,2% pangsa pasar makanan di Inggris.

Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Joko Supriyono mengungkapkan sentimen anti sawit sudah dimulai di Eropa sejak dulu, termasuk kepada biodiesel yang merupakan hasil olahan dari crude palm oil (CPO).

Sejak beberapa waktu lalu, menurutnya supermarket di Eropa mengaku mendapat tekanan dari Non-Governmental Organization (NGO) untuk menampilkan label penggunaan bahan baku dari sawit atau tidak. Dampaknya ialah banyaks supermarket yang melakukan boikot untuk tidak menjual barang berbahan sawit.

“Padahal penggunaan palm oil di Eropa sudah lama sekali. Seluruh makanan eropa menggunakan ini, seperti coklat, ice krim dan segala macam, untuk mentega juga. Semua menggunakan CPO,” kata Joko.

Hingga kini Gapki belum melakukan langkah gugatan. Pihaknya mendorong produsen yang menggunakan minyak sawit di negara itu terlebih dulu melakukan gugatan. Meski begitu CPOPC di sejumlah negara termasuk Indonesia juga telah melayangkan protes.

CPOPC kata Joko akan menjadi representasi dari sebuah negara. Kendati demikian, Gapki menyebut terus memberikan dukungan terhadap upaya protes yang telah dilayangkan itu. “Kami dukung hal ini. Ini upaya yang tidak dilakukan sendiri. Selalu ada komunikasi sesama untuk mendukung CPOPC untuk melakukan protes respon seperti apa,” katanya.

Sementara, Iceland Food dalam websitenya menuturkan pada akhir 2018, semua produk makanan Iceland akan bebas dari bahan baku kelapa sawit. Mereka mengklaim ritel itu merupakan supermarket Inggris pertama yang berkomitmen untuk menghapus kelapa sawit dari seluruh produk makanannya.

“Sampai Iceland dapat menjamin minyak kelapa sawit tidak menyebabkan kerusakan hutan hujan, kami katakan 'tidak untuk minyak sawit'. Kami tidak percaya akan adanya minyak sawit 'berkelanjutan' yang tersedia bagi pasar ritel, jadi kami memberi konsumen pilihan tentang apa yang mereka beli," kata Director Iceland Foods Ltd, Richard Walker dalam websitenya.

Tag : cpo
Editor : Linda Teti Silitonga

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top