Harga Minyak Bayangi Kinerja Neraca Perdagangan

Neraca Perdagangan Indonesia diperkirakan masih mengalami defisit tipis pada Maret 2018 setelah harga minyak dunia kian meninggi dan impor bahan baku serta barang modal yang dinilai makin melejit hingga nilai tukar rupiah mengalami pelemahan.
Rayful Mudassir | 15 April 2018 18:47 WIB
Aktivitas bongkar muat di terminal peti kemas Pelabuhan Makassar, Sulawesi Selatan, Rabu petang (6/12). - JIBI/Paulus Tandi Bone

Bisnis.com, JAKARTA – Neraca Perdagangan Indonesia diperkirakan masih mengalami defisit tipis pada Maret 2018 setelah harga minyak dunia kian meninggi dan impor bahan baku serta barang modal yang dinilai makin melejit hingga nilai tukar rupiah mengalami pelemahan.

Berdasarkan data Bloomberg, harga minyak dunia sepekan terakhir mulai menunjukkan kenaikan hingga. Minyak mentah berjangka AS West Texas Intermediate menyentuh harga US$67,39 per barel atau mengalami kenaikan pada sekitar 0,48% pada 13 April 2018.

Sementara harga minyak mentah berjangka Brent menembus angka US$72,58 per barel atau menguat 0,78% pada waktu yang sama. Kenaikan tersebut diduga akibat negara penghasil minyak sedang mengalami geopolitik sehingga membuat harga terkerek naik. Kondisi ini nyatanya menjadi salah satu faktor negara perdagangan RI akan kembali mengalami defisit.

Ekonom Institute for Development of Economics adn Finance (Indef) Bhima Yudistira Adhinegara mengatakan perdagangan Maret diperkirakan bakal mencatat defisit kecil sekitar US$50 juta hingga US$70 juta dolar pada Maret, lebih sedikit dibanding neraca perdagangan Februaru yang mengalami defisit US$120 juta.

Gejolak politik dinilai menjadi salah satu penyebab kenaikan harga minyak dunia, seperti yang sedang terjadi di Suriah. Pertikaian antara kubu pemberontakan dan pemerintah ikut menyeret beberapa nama negara lainnya sererti AS dan Rusia. Para negara penghasil dinilai akan menahan diri dan melakukan proteksi diri. Kondisi ini diperkirakan bakal lebih terasa dua pekan mendatang.

Di samping itu meningkatnya impor bahan baku penolong dan barang modal turut menyebabkan defisit pada Maret. Belum lagi ditambah dengan nilai tukar rupiah terhadap dolar makin melemah yakni mencapai Rp13.783 per dolar AS. Hal ini berdampak pada nilai impor baik migas maupun non migas meningkat.

“Penyebab defisit selain kenaikan harga minyak adalah impor bahan baku penolong dan barang modal. Ini menunjukkan bahwa industri manufaktur Indonesia sedang membutuhkan bahan baku yang cukup besar,” katanya kepada Bisnis, Minggu (15/4/2018).

Adapun dampak importasi bahan baku penolong hingga modal menurut Bhima jangan hanya dilihat dari satu sisi. Pasalnya di sisi lain kenaikan impor dua golongan penggunaan barang ini diperkirakan akan menaikan pertumbuhan industri manufaktur dari tahun 4,2% menjadi 4,5% pada 2018.

Berdasarkan catatan Badan Pusat Statistik, negara perdagangan RI telah mengalami defisit selama tiga bulan terakhir, mulai Desember 2017 hingga Fabruari 2018. Adapun defisit negaca perdagangan pada Desember mencapai US$220 juta.

Sementara defisit pada Januari 2018 mencapai US$760 juta dan mengalami penurunan US$120 juta pada Februari. Jika diakumulasikan, sepanjangan Januari – Februari 2018, total defisit perdagangan Indonesia mencapai US$870 juta.

Berlanjutnya defisit setidaknya disebabkan oleh meningginya impor seperti pada komoditas minyak mentah dari US$573,6 juta pada Januari menjadi US$932,7 juta atau meningkat 62,60% secara m-o-m. Padahal ekspor komoditas yang sama pada Februari hanya US$446 juta, lebih tinggi dibanding Januari yakni US$317,3 juta.

Sementara impor gas turun tipis dibanding Januari yakni sebesar US$248 juta menjadi US$196,9 juta secara m-o-m. Angka ini tidak tidak dibarengi dengan peningkatan ekspor produk yang sama. Ekspor gas di Februari malah turun dari US$877,6 juta pada Januari menjadi US$834 juta pada Februari.

Direktur Center of Reform on Economics (Core) Indonesia Mohammad Faisal mengatakan kondisi ekspor cukup baik terutama terjadi peningkatan di sektor manufaktur dan pertambangan. Namun di sisi impor non migas juga dinilai cenderung meningkat khususnya pada impor bahan baku penolong dan barang modal.

“Ada kecenderungan ekspor naik di sektor non migas namun impor juga akan naik terutama pada bahan baku dan penolong. Akan ada kecenderungn defisit tipis di Maret.,” katanya.

Dia menjelaskan negara perdagangan akan bergantung pada seberapa kuat ekspor non migas. Namun jika dorongan ekspor non migas lebih tinggi daripada peningkatan impor bahan baku dan penolong, semestinya defisit akan lebih rendah dibanding Februari. Atau malah bisa saja surplus tipis.

Menurutnya, kondisi perdagangan RI diperkirakan bakal kembali surplus usai Ramadan dan lebaran. Pasalnya memasuki puasa, impor akan kembali meningga karena daya konsumsi masyarakat yang selalu meningkat.

“Kemungkinan setelah lebaran mulai kembali surplus. Biasanya diperkirakan pada semester kedua harga minyak sedikit lebih rendah. Dari sisi non migas impor bahan baku dan penolong turun dan biasanya ekspornya naik. setelah Juli ada kemungkinan surplus lagi,” katanya.

Kelapa Badan Pengkajian dan Pengembangan Perdagangan (BP3) Kementerian Perdagangan Kasan Muhri mengatakan meskipun diperkirakan defisit tipis, diperkirakan kinerja ekspor bulan Maret akan semakin membaik dibandingkan bulan Februari 2018 bahkan dibandingkan Maret 2017.

“Kenaikan impor bahan baku diperkirakan masih berlanjut, tetapi laju impor barang konsumsi kemungkinan mulai melambat. Sehingga kinerja neraca perdagangan bulan Maret 2018 diperkirakan juga lebih baik,” katanya.

Menurut Kasan, faktor utama makin menipisnya defisit ialah perbaikan kinerja ekspor non migas. Selain itu penurunan impor barang konsumsi juga diperkirakan berkontribusi pada perbaikan neraca.

 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
ekspor

Editor : Linda Teti Silitonga

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top